Rabu, 29 Juli 2009

Wise Words about Children and Teaching

Children are like butterflies in the wind.Some can fly higher than others, but each one flies the best it can. Wliy compare one against another ? Everyone is diffrent. Each one is special. Each one is beautiful.

It is obvious that children will work harder and do things -- even odd things like adding fractions -- for the people they love and trust.  

To be a teacher is painful, continual and difficult, and it is to be done in kindness, by waiting, by warning, by precept, by praise, but above all, by example. 

A child needs encouragement as a plant needs water.

Remember that our children's spirits are more important than any material things. When we do, self-esteem and love blossom and grow more beautifully than any bed of flowers ever could. 

Unless you try to do some thing beyond what you have already mastered, You will never grow.

 

Ask yourself ..................... How an I changing a child's life with what I teach today ? 

tell me,  I forget. Show me, I remember. Involve me, I understand.

Selasa, 28 Juli 2009

PEMULUNG

PENDAHULUAN


Didunia ini dimana ada orang kaya sudah barang tentu ada orang miskin. Tetapi yang menjadi masalahnya adalah seberapa banyak orang Kristen atau gereja yang mau memperhatikan keadaan orang miskin yakni komunitas marginal, sebagai contoh adalah komunitas pemulung. Alkitab sendiri berbicara banyak tentang bagaimana orang percaya harus memperlakukan orang miskin dan melarat. Dalam berbagai cara Allah telah mengungkapkan perhatian yang besar bagi orang miskin yang kekurangan dan tertindas. [1]

Latar Belakang Masalah

Begitu jauh dari perhatian, komunitas pemulung menjadi suatu komunitas yang terabaikan, mereka yang sering disamakan dengan komunitas “miskin” , yang tentu saja memiliki hak dan kewajiban sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Komunitas pemulung ini lebih cenderung memiliki sikap yang kurang perhatian terhadap dirinya sendiri, karena hidup mereka penuh kekerasan, kelemahan fisik dan intelektual. Bahkan lebih daripada itu ketidakmampuan mereka untuk bersosialisasi atau mengembangkan diri menjadi beban yang sangat besar yang mereka alami.
Untuk bisa hidup lebih baik terkadang mereka lebih memilih untuk tidak bergantung kepada siapapun, termasuk kepada Tuhan yang mereka perjuangkan hanyalah “perut” mereka saja tanpa harus perlu untuk mengenal siapa itu Tuhan, beribadah, doa dan apa itu gereja. Dengan waktu yang ada para pemulung menggunakan waktu itu untuk mencari uang bahkan secara khusus pada hari Minggu.
Dalam koran Kompas yang memuat tentang opini, disana penulis membaca hasil penelitian seorang mahasiswa. Mahasiswa yang sekarang masih studi di Hitotsubashi University, Jepang. Dalam penelitiannya menegaskan bahwa : “jika kita telaah lebih dalam persentase penduduk miskin pedesaan tahun 2006 (21,90 persen) lebih tinggi 2,12 persen dibandingkan tahun 1996 (19,78 persen)”. [2] Dari hal ini penulis melihat betapa kurangnya perhatian terhadap kemiskinan, terkadang sebagian orang hanya akan mengatakan rasa kasihannya saja tanpa mau untuk ambil tindakan yang nyata.
Dengan adanya fakta itu maka penulis merasa penting membahas dan mengangkat judul skripsi ini. Karena keadaan itu, Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI) kmerasa terpanggil untuk ikut berperan menjangkau komunitas pemulung ini dan gereja juga terpanggil untuk memberdayakan mereka. Gereja merasakan dengan kurangnya perhatian kepada para pemulung ini maka gereja GPIBI mengambil bagian untuk meningkatkan kehidupan rohani mereka dengan kata lain menjangkau mereka bagi Kristus dan memberdayakan mereka dalam segala bidang termasuk dalam pekerjaan Tuhan.
Sebagai Penulis yang membahas tentang keberadaan mereka, sekaligus penulis ada didalam pelayanan komunitas pemulung ini merasa terbeban dan ingin rasanya memberikan mereka suatu dorongan untuk menjadi yang lebih baik.
Namun untuk itu diperlukan adanya kerelaan hati juga dari para pemulung itu sehingga proses yang mereka alami dapat dicerna dengan baik.
Tujuan Penulisan
Skripsi ini disajikan oleh penulis adalah bertujuan untuk:
Pertama, Membahas peranan gereja Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia dalam penjangkauan dan pemberdayaan komunitas pemulung.
Kedua, Menambah pemahaman tentang orang Miskin atau pemulung itu yang ditinjau dari dari pandangan Perjanjian Lama, Perjanjian baru, Sejarah Gereja, serta tinajuan Teologis.
Ketiga, Memberikan motivasi gereja-gereja dalam memberdayakan komunitas marginal secara khusus para pemulung. Dimana gereja tidak hanya meningkatkan kerohaniannya tetapi juga kehidupan materinya.
Hipotesa

Hipotesa atau hipotesis yang sering juga disebut pendapat sementara atau anggapan dasar yaitu sesuatu yang dianggap benar meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan. [3]Maka dalam kesempatan ini penulis mempunyai hipotesa bahwa peranan Gereja Perhimpunan Injli Baptis Indonesia dalam menjangkau komunitas miskin/ marginal khususnya para pemulung di Simpang Kongsi sangat besar karena visi dan misi GPIBI “Air Kemuliaan” diSimpang Kongsi adalah berfokus kepada penjangkauan dan dan pemberdayaan jemaat marginal.

Manfaat Penulisan

Manfaat yang diharapkan oleh penulis dalam tulisan atau dalam skripsi ini adalah, agar skripsi ini bermanfaat :
Pertama, Sebagai wahana bagi penulis dalam mengembangkan kemampuan menyusun karya ilmiah secara baik dan faktual
Kedua, Sebagai bahan masukkan bagi para pembaca mengenai bagaimana komunitas pemulung dapat dijangkau, baik secara rohani dan secara pemberdayaan.
Ketiga, Sebagai bahan masukkan bagi gereja-gereja dalam memikirkan jiwa-jiwa, secara khusus komunitas “miskin” atau pemulung. Terutama gereja-gereja yang melayani dalam jemaat yang “miskin”.
Keempat, Sebagai sumbangsih pemikiran yang sederhana dari penulis untuk almamater penulis sendiri yakni, Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia.
Pembatasan Masalah

Untuk menghemat biaya yang akan dipakai dan waktu yang akan dipergunakan untuk membuat skripsi ini maka penulis menganggap perlu diadakan pembatasan masalah.
“sebab itu pembatasan masalah perlu memenuhi syarat dalam perumusan yang terbatas, pembatasan ini bukan saja memudahkan atau atau menyederhanakan masalah bagi penyelidikan tetapi juga pemecahannya, tenaga, kecekatan ongkos dan lain-lain yang timbul dalam rancangan tersebut” [4]

jadi, dalam hal ini penulis cukup membatasi masalah seputar peranan gereja GPIBI dalam menjangkau dan memberdayakan komunitas pemulung saja, dalam arti seputar bagaimana meningkatkan pola hidup para pemulung, dengan metode-metode yang benar sehingga para pemulung tidak hanya baik dalam hal materi, tetapi juga dalam hal rohaninya kepada Tuhan.
Daerah yang akan dibahas didalam skripsi ini adalah daerah Simpang Kongsi-Pancur Batu. Daerah ini adalah daerah dimana terdapat begitu banyak pemulung dan hampir rata-rata mata pencaharian penduduk disana adalah sebagai pemulung. Simpang Kongsi ini juga adalah daerah tempat pembuangan sampah dari kota, yakni pembuangan sampah Medan sekitarnya, ada sekitar puluhan hektar lahan yang digunakan untuk tempat penampungan sampah-sampah tersebut.
Peniulis akan menggambarkan letak daerah Simpang Kongsi ini dengan gambar yang sederhana.






Gbr: lokasi Simpang Kongsi-Pancur Batu

Metode Penulisan

Metode merupakan cara yang dipakai untuk suatu tujuan sehinggga metode penulisan yang dipakai dalam karya ini antara lain : riset perpustakaan (Library research), yaitu pengumpulan data-data dan keterangan melalui literature-literature yang mendukung pokok bahasan. Penelitian (riset) adalah “penggunaan media ilmiah yang bersifat formil dan sistematis untuk mempelajari masalah, memang untuk mencapai karya ilmiah ad dua metode, salah satunya lagi adalah penelitian lapangan yangh dipakai untuk melengkapi riset kepustakaan, ketika mengamati pola kehidupan komunitas pemulung di gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia, Simpang Kongsi, Pancur Batu.”
Penelitian seperti itu melakukan pembuktian secara teori (dalam tinjauan pustaka) dan dengan pengujian dengan data-data secara empiris (pada penelitian lapangan). Tinjauan kepustakaan pengidentifikasian, penjelasan dan penguraian secara sistematis dokumen-dokumen yang mengadung informasi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.
Metode Deskriptif dipakai dalam penulisan ini.
“jenis dan corak pertanyaan menentukan keberhasilan wawancara terbuka, yaitu pertanyaan deskriptif, pertanyaan Struktural dan pertanyaan Kontras” [5]
Deskriptif adalah menuturkan dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi yang dialami, suatu hubungan kegiatan, pandangan, sikap yang nampak atau tentang suatu proses yang sedang berlangsung, pengaruh yang sedang bekerja, kelainan yang muncul, pertentangan yang meruncing.
Definisi Istilah

Istilah “pemulung” sering diidentikkan dengan kata “orang miskin” yang dalam arti sederhananya adalah orang yang berhubungan dengan keadaan ekonomi dan sosial. Tetapi istilah “pemulumg” yang sama dengan miskin ini bukanlah suatu istilah yang mutlak tetapi adalah istilah yang relatif. Dan pada dasarnya kata “pemulung” dipakai untuk menunjukkan suatu profesi atau suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh beberapa orang sehingga mereka dikatakan sebagai komunitas pemulung.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemulung adalah: “orang yang mencari nafkah dengan jalan mencari dan memungut serta memanfaatkan barang bekas”[6] kata Menjangkau ialah



Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan isi skripsi ini maka penulis membaginya kedalam 5 bab yang dirangkai secara teratur dan sistematis yaitu sebagai berikut:
Bab Pertama: berupa pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, hipotesa, metode penulisan, definisi Istilah dan sistematika penulisan.
Bab kedua: uraian mengenai tinjauan literal terhadap pelayanan komunitas miskin atau pemulung/ marginal dimana akan dibahas beberapa tinjauan terhadap kaum miskin didalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, tinjauan Sejarah Gereja serta Tinjauan Teologis.
Bab ketiga: uraian tentang peranan Gereja Perhimpunan Injili Indonesia dalam menjangkau dan memberdayakan komunitas miskin/pemulung di Simpang Kongsi. Beberapa peranan gereja akan dibahas diantaranya: pendekatan terhadap komunitas pemulung, penyampaian Firman dan penginjilan, pemuridan dan peneguhan Jemaat serta pemberdayaan Jemaat miskin/pemulung.
Bab keempat: didalamnya membahas bagaimana implementasinya terhadap gereja masa kini yang mengarah kepada motivasi untuk membuka pos-pos PI yang baru guna menjangkau lebih banyak jiwa, keberhasilan gereja dalam meningkatkan pola pikir dan karakter komunitas miskin, serta menciptakan komunitas miskin yang ramah lingkungan.
Bab kelima, diuraikan kesimpulan akhir dan saran yang bertujuan untuk memberikan masukkan kepada pembaca
Selain itu dalam skripsi ini akan dimasukkan lampiran-lampiran dan daftar kepustakaan.
[1] Donald C.Stamps.C., Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Jakarta : Gandum Mas dan Lembaga Alkitab Indonesia), 2004, 1410

[2] Artikel: Teguh Dartanto, Kemiskinan Pedesaan dan “seasonal Cash For Work”, (Kompas, Jumat, 23 Februari 2007), 13
[3] TPKP3, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 906

[4] Winarno, Surakmad. Pengantar Penelitian ilmiah, (Bandung: Tarsito, 1982), 34
[5] John Mansford Prior, Meneliti Jemaat : Pedoman Riset Partisipatoris, (Jakarta: Grasindo, 1997), 121
[6] TPKP3, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 906

MUSIC

Berbicara tentang musik. Musik adalah bagian dari kesenian dan yang sudah dikenal sejak Allah menciptakan alam semesta. Mike dan Viv Hibert menuliskan dalam bukunya “ketika Allah menciptakan alam semesta, Dia memasukkan unsur musik dalam setiap bagian dari ciptaanNya.” [1] unsur musik yang disebut diatas adalah suara atau irama yang ada dalam musik dan itu bersumber dari benda-benda yang bisa dijadikan alat musik. Bahkan berdasarkan Alkitab manusia sudah mengenal alat musik pada generasi kelima setelah manusia pertama (Adam). [2] hal ini menjadi sebuah tanda dimana Allah menyukai musik dengan segala unsurnya.
Sejak zaman dahulu, Tuhan memberikan kepada manusia ciptaanNya (memang tidak semuanya) suatu kepekaan dalam memainkan alat musik maupun menyanyi. Alat musik zaman dahulu sangatlah sederhana, dibuat dari bahan apa saja yang dihasilkan dari bumi ini, atau dari kulit binatang, tapi alat musik yang sederhana itupun dapat menghasilkan do-re-mi. [3]
Kalau dilihat dari perkembangan alat musik zaman dahulu dengan zaman sekarang ini, sudah begitu banyak jenis-jenis alat musik yang mulai muncul ditengah-tengah kalangan para pencinta musik. Bahkan sekarang hampir semua alat-alat musik yang terbuat dari bahan elektronik atau yang berbau komputer yang sangat canggih. Terkadang juga sebuah gereja tidak puas dengan alat musik yang telah dimiliki, mereka selalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru untuk dikembangkan jemaat.
Berbicara tentang sejarah dan pandangan teologis alat musik menjadi topik yang cukup unik bahkan lebih unik lagi jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah Kristen yang sudah ada di Indonesia secara khusus gereja-gereja lokal yang muncul dengan berbagai aliran atau dogma, namun tujuannya tetap yakni Yesus sendiri. Yang menjadi masalah terkadang para pemain alat musik serta kaum awam tidak tahu benar pengertian alat musik secara teologis. Bob Storge menuliskan dalam bukunya menyatakan bahwa bangsa Israel tahu benar dari segi teologis maupun pandangan biasa tentang pentingnya pujian melalui alat musik yang mereka bunyikan ketika menyembah Tuhan. “Miryam mengambil rebana dan memimpin wanita Israel menyanyi. Pada saat itu Musa dan seluruh umat Israel menyanyikan lagu kemenangan yang hebat sekali bagi Tuhan, yang tersirat sebuah Wahyu yang menakjubkan” [4] Begitu pentingnya alat musik dalan ibadah sehingga sangat perlu dipelajari dan melalui lat musik ternyata Allah juga menyatakan kuasaNya.
Setiap kali Alkitab menyebut suara sangkakala selalu diikuti peristiwa yang penting. Sejak pertama kali disebutkan dalam Keluaran 19: 13, ketika menegakkan perintah Allah, sampai sangkakala yang ditiup tujuh kali sebagaimana dinyatakan Wahyu 8: 6 – Wahyu 10, dan masih bergema hingga sekarang, suara sangkakala menandai hadirat Allah. [5] Dari penjelasan diatas berkesimpulan bahwa alat musik sejak awalnya menjadi sarana yang efektif oleh Allah untuk menyatakan kemuliaanNya bagi bangsa-bangsa.
Pendalaman teologis dan historis dalam ibadah Kristen memberi pemahaman bahwa lebih dari yang biasa dipikirkan akan terjadi melalui alat musik. Allah tidak kehabisan cara untuk menyatakan kemuliaanNya bagi bangsa-bangsa.
Latar belakang
Pada sekarang ini banyak gereja-gereja tidak mengetahui tujuan pemakaian alat musik yang mereka pakai dalam ibadah, sehingga ada gereja memandang alat musik tersebut sebagai pengganggu atau pengacau didalam ibadah mereka. Dan ada juga gereja memandang kalau alat musik yang lengkap seperti drum, keyboard (piano), gitar (bass) atau fullband itu hanya bisa dipakai gereja yang beraliran Roh Kudus (Kharismatik). Dan yang menjadi masalah ada juga pandangan gereja tentang alat musik yang lengkap (fullband) hanya bisa dipakai dalam ibadah muda-mudi sebuah gereja.
Ada juga beberapa masalah yang melatarbelakangi penulisan skripsi ini :
Pertama, ada beberapa pandangan didalam Gereja bahwa alat musik suku Batak seperti: Gondang (gendang),sarune (serunai),sordam (Sejenis suling), Ogung (gong), hasapi (Kecapi) tidak layak dipergunakan dalam gereja atau ibadah Kristen.
Kedua, ada gereja yang memandang alat musik tersebut sebagai penarik jiwa-jiwa atau menyemarakkan suasana ibadah sehingga alat musik tersebut menjadi alat ketergantungan maka tanpa alat musik yang lengkap jemaat tidak lagi bersemangat untuk memuji/ mereka tidak datang beribadah sehingga mencari gereja yang memakai alat musik yang lengkap dan canggih.
Ketiga, begitu banyak pada zaman sekarang ini yang menjadikan alat musik dalam ibadah Kristen sebagai alat untuk menyalurkan bakat-bakat seni. Artinya banyak para pemuda yang memainkan alat musik dalam ibadah karena ada kemampuan mereka memainkannya. Sehingga ketika ibadah berjalan mereka memainkan alat musik itu sendiri dengan keinginan mereka sendiri sehingga menimbulkan nada-nada yang tidak cocok pada pujian yang dibawakan waktu ibadah, sehingga yang terjadi adalah hal tersebut tidak membawa berkat pada jemaat.
Keempat, adanya jemaat yang tidak paham makna dan tujuan pemakaian alat musik dalam ibadah. Viv Hibert dalam bukunya jelas sekali dituliskan bahwa :
Maksud dari pemakaian alat-alat musik :
1. Untuk melayani Allah dihadiratNya (I Taw 16: 4,6,37)
2. Untuk memuji Tuhan (Mzm 33: 22)
3. Untuk mengiringi penyanyi dalam sukacita dan puji-pujian (I Taw 15: 16)
4. Untuk memanggil dan memimpin jemaat dalam beribadah (Bil 10: 1-10)
5. Mempersiapkan jemaat untuk bernubuat (II Raja 3: 15)
6. Untuk menyampiakna nubuat (I Taw 25: 1-3)
7. Untuk memimpin dan dimainkan dalam peperangan (Bil 10: 2-10)
8. Untuk mengantarkan dan mengumumkan kehadiran Allah (Mzm 47: 6)
9. Untuk mengajar segala bangsa memuji Tuhan (Mzm 57: 8-10) [6]

Dari kutiban diatas membuktikan kepada kita bahwa penggunaan alat musik

Dalam ibadah bukanlah sembarangan tetapi memiliki fungsi yang jelas, bukan ajang menunjukkan kemampuan seseong tetapi lebih kepada persekutuan yang indah didalam baitNya Tuhan. Kata bersyukur lewat pujian dan musiklah kita menyampaikannya betapa Allah ajaib dan besar. Allah memberikan kepada manusia kepintaran untuk membuat karya yaitu alat musik dan sudah tentu Allah juga menginginkan kita manusia mempergunakannya untuk kemuliaan Allah kita.
Tujuan Penulisan

Proposal ini memaparkan bagaiman sebenarnya alat-alat musik dari pandangan teologis dan historis dalam suatu ibadah Kristen. Karena dengan melihat perkembangan yang terjadi masa-masa sekarang ini alat-alat musik menjadi tren yang ditengah-tengah lingkungan gereja dengan berbagai aliran. Dalam setiap moment ataupun setiap kegiatan kerohanian bukti nyata yang terlihat adalah bahwa alat-alat musik akan disediakan dengan megah dan mewah, tetapi sayang mengertikah gereja-gereja makna dasar dari musik tersebut?
Tujuan yang pertama, supaya semua warga gereja memahami apa maksud alat-alat musik dipakai dalam ibadah Kristen.
Tujuan yang kedua, supaya memperbaiki kesalahpahaman atas pandangan warga gereja terhadap pemakaian alat musik dalam ibadah, seperti alat musik fullband hanya dipakai oleh gereja yang kharismatik.
Tujuan yang ketiga, supaya para pemain alat musik dalam gereja mengetahui maksud dari pemakaian alat musik dalam ibadah terutama dikalangan anak muda, dan bukan untuk pelarian diri bakat yang dimiliki.
Definisi Istilah
Sesuai dengan judul proposal ini yaitu “Tinjauan Teologis dan Historis Alat-alat Musik Dalam Ibadah Kristen” maka penulis membuat istilah untuk menghindarikesalapahaman terhadap judul proposal ini. Pertama, yang dimaksud dengan teologis adalah: dalam arti paling sempit, teologi adalah studi dari pengetahuan tentang Allah. Tetapi dalam arti lebih luas dalam bahasa modren, teologi adalah uraian rasional dari suatu agama yang ditunjang oleh sejumlah subsdisiplin termasuk studi nasakah-naskah suci, etika, doktrin, sejarah dan peribadahan[7].
Kedua, yang dimaksud dengan Historis adalah: (1) Berkenan dengan sejarah: bertalian atau ada hubungan dengan masa lampau, (2) Bersejarah[8].
Ketiga, Alat Musik adalah benda yang dipakai untuk menyusun nada atau suara di urutan kombionasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan[9] dan sedangkan ibadah adalah pertemuan para jemaat-jemaat Tuhan.
Pembatasan Masalah
Agar benar-benar tulisan ini tidak merambat dan melebat kearah yang lain-lain maka penulis memberikan pembatasan masalah, dengan harapan tepat pada sasaran. Penulisan ini membahas secara umum pandangan teologis dan historis alat musik dalam ibadah-ibadah Kristen. Penulisan berfokus pada alat-alat musik yang digunakan dalam ibadah-ibadah kristen secara khusus gereja-gereja yang memiliki alat-alat musik, sehingga tidak hanya gereja tetapi para pemain musiknyapun memahami alat-alat musik itu dari segi teologis dan historis.
Metode Penulisan
Penulis memilih metode deskriptif dalam penulisan ini, yang tidak mengutamakan angka-angka statistic. Sumanto menjelaskan bahwa metode deskriptif adalah “metode yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan apa yang ada”[10]
Hal yang di Interpretasikan (dikaji dan ditafsirkan) bisa saja perihal kondisi atu hubungan, pendapat yang sedang berlangsung, akibat efek yang terjadi atau kecenderungan yang tengah berkembang dimasyarakat.
Hipotesa
Sebagai kesimpulan sementara, hipotesa penulis dari tulisan ini adalah: Alat Musik menjadi sarana yang efektif dalam Ibadah Kristen. Pemahaman secara teologis dan historis tentang alat-alat musik dalam ibadah Kristen diyakini dapat membawa umat kristen menyembah Allah lebih sungguh lagi, dan menggunakan beragam alat-alat musik untuk Kemuliaan Tuhan.
Artinya, bahwa alat musik akan lebih baik dan bermakna serta memberikan pelajaran penting kepada para pemain musik bahwa sesungguhnya alat musik yang dimainkan bukan hanya sekedar alat musik yang memberi semangat tetapi juga penuh makna teologis.
Sistematika Penulisan
Dalam karya tulis ini penulis mengurikan sistematika penulisan dengan judul yang telah ditentukan antara lain:
Bab I adalah pendahuluan dari penulisan skripsi ini, dimana dalam pendahuluan didalamnya terdapat latar belakang masalah, tujuan penulisan, definisi Istilah, pembatasan masalah, metode penulisan, hipotesa dan sistematika penulisan yang dibuat sesuai dengan judul skripsi ini.
Bab II dalam skripsi ini akan membahas tentang pemakaian alat musik dalam sejarahnya dimana dalam bab ini yang menjadi sub judul keduanya adalah tentang alat musik dalam Alkitab, Alat musik pada awalnya, dan akan dijelaskan juga bagaimana alat musik dalam zaman Adam, alat musik zaman Yosua, alat musik zaman Daud, alat musik zaman Salomo, alat musik zaman Perjanjian Baru. Selain itu dalam bab ini juga akan dibahas sejarah masuknya alat musik kedalam gereja yakni masa renaissance dan masa Barokh. Sub judul yang lain yang dijabarkan dalam bab ini adalah pengaruh alat musik bagi gereja dan peranan alat musik dalam Ibadah Kristen.
Bab III adalah pembahasan tentang tinjauan teologis dan historis alat musik. Sub judul pertama akan membahas tentang tinjauan teologis alat musik dengan sub judul kedua alat musik yang ditunggangi oleh iblis dan alat musik sebagai sarana penyembahan kepada Allah. Pandangan tokoh-tokoh Teologia tentang alat musik yakni dengan sub judul kedua tinjuan historis alat musik

[1] Mike dan Viv Hibert, Pelayanan Musik, (Jakarta: Yayasan ANDI,1988), 10
[2] Tp. Suara Methodist Indonesia,(Medan: Percetakan Methodist, 1940), 34
[3] Tp. Suara Methodist Indonesia, 34
[4] Bob Sorge, Mengungkap Segi-segi Pujian dan Penyembahan, (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1991), 35
[5] Ray Hughes, Suara Surga Sinfoni Bumi, (Jakarta: Nafiri Gabriel, 2001), 24
[6] Mike dan Viv Hibert, Pelayanan Musik, (Jakarta: Yayasan ANDI,1988), 58-59
[7] W.R.F. Browning. Kamus Alkitab, (jakarta : BPK Gunung mulia, 2007),441-442
[8] t.n. Dapartemen Pendidikan dan Kebudayaan, 355
[9] t.n. Departemen pendidikan dan kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (jakarta:balai pustaka, 1988), 1060
[10] Sumanto.Metodologi penelitian Sosial dan Pendidikan (Yogyakarta : Yayasan ANDI,1995),77

Jumat, 24 Juli 2009

Teaching With Style

APA PENGHALANG NOMR SATU UNTUK BELAJAR ???
Jika murid-murid dimintai untuk menunjukkan satu hal yang akan mereka ubah pada para pengajar mereka seandainya mereka dapat melakukannya, apa yang menurut anda akan mereka katakan ? elar yang lebih tinggi ? pekerjaan rumqah yang lebih mudah ? atau mungkin liburan yang lebih lama ?
Jawabannya adalah tidak satupun dari hal diatas ! Orang-orang sungguh-sungguh perlu belajar, baik digereja, sekolah atau dalam kelas pelatihan ditempat kerja. Akan tetapi, satu penghalang raksasa yang sering kali menghadang dijalan mereka adalah: RASA BOSAN !! rasa bosan adalah penghalang nomor satu untuk belajar.
komunikator seharusnya tidak membuat bosan para murid mereka. hal ini terjadi jika mereka gagal untuk melihat bahwa mengajar adalah sebuah peran dimana mereka dipanggil untuk itu. kebosanan terjadi ketika mereka mengajar seadanya ketimbang mengajar dengan gaya yg menarik perhatian. dan hal ini terjadi ketika kepribadian dan metodologi tidak diperdayakan dengan pemakaian gaya.

Rabu, 27 Mei 2009

KADO ULANG TAHUN LIDYA (Puisi)


Hidup.

Pada tinta kelam pekat

basuhlah dengan air suci pekerti hidup selama ini,

kemenangan dan kekalahan

adalah yang harus dihadapi dalam kehidupan.

Dalam menyusuri sepanjang tepian pantaimu

upayakan selalu mencoba :

“mengeja gelombang demi gelombang hidup-Nya”

Bersujudlah di serambi waktu-Nya

biasakan memeluk malam dalam Doa

juga berikhtiarlah dalam kesungguhan menantang alam ini.

Tidak seperti macan tanpa cakar

bukan seperti hiu tanpa taring

tidaklah pula bagaikan pantai tanpa lautan

bukan juga layaknya elang tak bersayap,

Berharaplah seperti:

-tegarnya karang diterpa ombak

-sabarnya pagi menanti mentari melepas malam

-tabahnya hari selalu berganti

-kerasnya suara petir menyambar alam

-kuatnya bumi diinjak menopang kaki

-setianya petani mengelus tanah sawah

-tingginya gunung menjulang langit

-jujurnya air mengalir merendah

-wanginya melati tertetes embun

Tapi mungkinkah semua itu,

jika sujud simpuh kita selalu menjauh

dan syukur tertinggal jauh ?

Selamat Ulang Tahun sobat,

Semoga bahagia selalu dalam Bimbingan'Nya

dan...

sesungguhnya kebahagiaan yang sejati ada dari lubuk hatimu.

*Bojonegoro, 27 Mei 2009 jam. 00.00WIB

dibuat oleh Didik untuk sobat Lidya di Medan

Selasa, 26 Mei 2009

Guru

GURU
Istilah professional berasal dari profession, yang mengandung arti sama dengan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan professionalisme yaitu okupasi, profesi dan amatif. Terkadang membedakan antar para professional, amatir dan delitan. Maka para professional adalah para ahli di dalam bidangnya yang telah memperoelh pendidikan atau pelatihan yang khusus untuk pekerjaan itu.[1]
Kata keprofesionalan berasal dari kata dasar “profesional” dan “profesi” arti dari profesi ialah “jabatan”, sedangkan ‘profesional’ maknanya adalah “ahli” dalam suatu bidang pekerjaan. Jadi keprofesionalan adalah suatu keahlian dan kemampuan dalam mengerjakan suatu pekerjaan dalam satu bidang. [2]
Keprofesionalan kata dasarnya adalah “profesional”, dalam kata profesional terdapat imbuhan, yaitu; ke – an , kata tersebut diatas menunjukkan arti “melebihkan atau membesarkan, mutu, kualitas lebih istimewa dari yang biasanya” [3] , contoh lain; ke-besar-an, ke-lebih-an, ke-puas-an, ke-tinggi-an dan lain-lain.
Dari pengertian keprofesionalan diatas, maka dapat diartikan keprofesionalan dalam mengajar, yaitu: pengajar yang memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, idealisme dan memiliki komitmen memajukan mutu pendidikan serta memiliki kompetensi didalam mengajar anak didik. Dengan demikian, guru PAK yang profesional adalah guru yang melaksanakan tugas mengajar dan mendidik dibidang PAK dengan mengandalkan kemampuan dan karakter yang tinggi dan mengacu kepada sosok Yesus sebagai Guru Agung.
Mengajar juga merupakan suatu perbuatan unsur seni maksudnya adalah mengajar merupakan suatu ilmu tetapi disamping itu juga merupakan seni karena mengajar sebagai ilmu ajar yang membutuhkan berbagai gaya atau metode mengajar, sehingga metode atau gaya tersebut dapat dikatakan sebagai seni dan bahwa keguruan didapat dari hasil proses belajar ttapi keguruan tidak terlepas dari bakat yang menunjukkan bagaimana kepiawaian seseorang dalam mempersiapkan dan menyampaikan sebuah gagasan atau materi sehingga orang lain dapat menerima gagasan atau materi tersebut.
Jika kita review kembali latar belakang dari munculnya guru-guru yang profesional, maka kita akan memahami bahwa betapa beratnya profesi seorang guru. Dahulu seorang guru diharapkan memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan istimewa, yang kata-katanya patut untuk didengarkan. Waktu itu mengajar bukanlah sutau profesi yang diorganisir, dan tidak ada pengawasan atas apa yang diajarkannya.
Memang benar bahwa mereka kemudian sering dihukum mati karena ajaran-ajarannya yang dipandang bersifat subversif. Socrates dihukum mati dan Plato dijebloskan ke penjara. Tapi kejadian demikian tak sampai menghambat tersebarnya ajaran-ajaran mereka. Tiap orang yang memiliki naluri guru yang murni akan lebih senang hidup terus dalam buku-bukunya dari pada dalam tubuhnya. [4] Suatu perasaan kemerdekaan intelektual sangat penting artinya bagi pemenuhan yang sesungguhnya dari fungsi-fungsi guru, sebab memang sudah tugasnya untuk menanamkan pengetahuan serta daya nalar yang dimilikinya ke dalam proses pembentukan pendapat umum.
Usaha untuk membuat profesi guru menjadi profesional sudah dilakukan oleh pemerintah salah satunya dengan adanya syarat bagi seorang guru tertentu untuk mengikuti akta IV dan pendidikan khusus lainnya agar bisa menjadi guru negeri dilingkungan pendidikan nasional. Upaya ini dilakukan untuk menertibkan profesi guru agar bisa mengaplikasikan kode etik guru dengan sebaik-baiknya dan juga bersikap profesional dengan tugas yang diembannya. Namun hal itu harus diimbangi dengan suatu bentuk perlindungan hukum dari hal-hal yang tidak di inginkan. Karena itulah perlu adanya sebuah rumusan undang-undang yang secara tegas dapat mengikat dan melindungi hak-hak dan kewajiban guru.
Pentingnya pengetahuan profesionalisme dalam pengajaran dan bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme guru-guru pemula, mengembangkan 10 prinsip penting profesionalisme guru, yaitu:
☻Penguasaan terhadap mata pelajaran yang diampu. Seorang guru seharusnya memahami konsep-konsep dasar, instrumen-instrumen untuk menguji, dan struktur-struktur dari mata pelajaran yang diajarkan, serta dapat menciptakan pengalaman-pengalaman belajar yang dapat membuat seluruh aspek mata pelajaran menjadi bermakna bagi para muridnya.
☻Penguasaan terhadap belajar dan perkembangan manusia. Para guru memahami bagaimana anak-anak belajar dan berkembang, dan dapat menyediakan kesempatan-kesempatan belajar yang mendukung perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosi, dan spiritual mereka.
☻Penguasaan strategi pengajaran. Para guru memahami dan menggunakan strategi pengajaran yang bervariasi untuk mendorong perkembangan berpikir kritis, penyelesaian masalah, dan keterampilan-keterampilan penting murid-muridnya.
☻Adaptasi strategi pengajaran. Para guru memahami bagaimana para siswa berbeda dalam pendekatan-pendekatannya ketika belajar sehingga mereka menciptakan strategi-strategi pengajaran yang sesuai dengan keragaman siswanya.
☻Motivasi dan manajemen. Para guru menggunakan pemahaman perilaku dan motivasi individu maupun kelompok untuk menciptakan sebuah lingkungan belajar yang mendorong interaksi sosial yang positif, keterlibatan yang aktif dalam belajar, dan motivasi diri.
☻Keterampilan komunikasi. Para guru menggunakan komunikasi verbal, nonverbal, dan media yang efektif untuk mengembangkan penyelidikan, kolaborasi, dan interaksi yang saling mendukung di dalam kelas.
☻Perencanaan. Para guru merencanakan pengajaran berdasarkan pengetahuan mereka tentang mata pelajaran, murid, komunitas, dan tujuan-tujuan kurikulum.
☻Para guru memahami dan menggunakan strategi-strategi asesmen yang formal maupun informal untuk mengevaluasi dan memastikan perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosi, dan spiritual para murid.
☻Guru adalah seorang praktisi yang selalu merefleksikan dan mengevaluasi secara terus menerus pengaruh-pengaruh dari pilihan-pilihan dan tindakan-tindakannya terhadap orang lain (murid, orangtua, dan profesional lain dalam komunitas pembelajaran), dan selalu aktif mencari kesempatan-kesempatan menumbuhkan profesionalismenya. [5]
Kemitraan. Para guru mengembangkan hubungan-hubungan dengan rekan profesi, orangtua, dan pihak-pihak lain dalam komunitas yang lebih luas untuk mendukung belajar dan kesejahteraan murid-muridnya.

Pengertian Guru PAK

Siapakah yang disebut “guru” itu? Bagaimana membedakan peran, tugas dan tanggung jawab guru? Bagaimanakah sang guru dirasakan kehadirannya dalam masyarakat?
- Sang guru adalah pendamping utama kaum pembelajar, orang-orang muda dan benih-benih kehidupan masa depan, dalam proses menjadi pemimpin.
- Sang guru adalah aktor intelektual yang selalu ada dibelakang layar, ia semacam “provokator” yang tut wuri handayani. [6]
- Sang guru belajar dari dirinya sendiri, ketika pemimpin belajar pada semua orang dan terinspirasi oleh matahari, air, api, atau alam semesta, sedangkan pembelajar belajar pada idolanya, tokoh-tokoh yang dikaguminya.
- Bagi seorang guru untuk bersungguh-sungguh mengajar yang paling menentukan bukanlah gaji, meski gaji yang tidak mencukupi kebutuhan dasar memang dapat mengganggu ketenangan dan totalitas mengajar. Sebaliknya, pertambahan gaji yang tidak diiringi oleh kuatnya komitmen sebagai guru tidak cukup memadai untuk membuat seorang guru mengajar dengan totalitas. Menjadi manusia guru, itulah tugas dan panggilan tertinggi seorang manusia. Dan, sejarah mengajarkan kepada kita bahwa hanya segelintir orang yang mampu membawa dirinya sampai ketahap itu.
Sebuah reposisi guru sangay diperlukan karena perannya tidak lagi hanya sebagai “pengabdi” pendidikan yang dicekoki rutinitas, tapi harus menjadi “pendidik murni” yang mendapatkan kesempata-kesempatan yang luas untuk mengembangkan sendiri pola pembelajarannya dan meningkatkan kualitas pribadi sehingga bisa menghasilkan anak didik yang cerdas dan bermoral. [7]


Syarat Guru PAK
Sedangkan syarat untuk menjadi seorang guru ada 3, yaitu:
1. Memiliki kualifikasiminimum dan seritifikasisesuai dengan jenjang kewenangan mengajarkan
2. Kesehatan jasmani dan rohani
3. Memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ada ribuan istilah yang bisa digunakan untuk membahsakan sifat atau karakter guru yang ideal. Namun, sepertinya tidak ada yang mampu menyaingi kedua istilah ini lembut dan brilian. Dua kata inilah modal utama untuk menjadi guru berprestasi. Kelembutan adalah cermin cinta dan kasih sayang, sedangkan kebrilian adalah cerminan kreativitas, profesionalisme dan progresivitas.

Fungsi Guru PAK Secara Alkitabiah
Sungguh ironis bila seorang guru bekerja hanya untuk memenuhi kewajiban dan menjalankan rutinitas belaka tanpa mau menganggap bahwa kreativitas dalam pendidikan merupakan tujuan utama dalam memberikan pembelajaran terhadap murid.
Unsur signifikan dari proses pendidikan adalah kreativitas. Dari kreativitas itulah akan tercipta kemajuan, sehingga hal yang berkenaan dengan proses pendidikan bisa terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan utama pendidikan itu sendiri. Guru kreatif akan memunculkan murid yang kreatif juga. Apabila guru dan murid kreatif, maka lembaga sekolah juga akan menyesuaikan diri untuk menjadi kreatif. Kreatif dalam melahirkan kebajikan, metode, proses pembelajaran, dan hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan lainnya. Dari sana kemudian, tidak akan ada lagi siswa yang terjerumus pada pergaulan yang buruk akibat masa pubertas mereka yang meluap-luap sehingga akan menjadi manusia dewasa yang stabil. Dari sana pula, akan bergerak maju dan bersaing secara sehat dan konstruktif.

Kompetensi Guru PAK yang Profesional

Akadum (1999) juga mengemukakan bahwa ada lima penyebab rendahnya profesionalisme guru, pertama masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total, kedua rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan, ketiga pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati dari pengambilan kebijakan dan pihak-pihak terlibat. Hal ini terbukti dari masih belum mantapnya kelembagaan pencetak tenaga keguruan dan kependidikan, keempat masih belum smooth-nya perbedaan pendapat tentang proporsi materi ajar yang diberikan kepada calon guru dan kelima masih belum berfungsi PGRI sebagai organisasi profesi yang berupaya secara makssimal meningkatkan profesionalisme anggotanya

Metode Mengajar PAK yang Profesional

Metode pembelajaran adalah sebuah cara atau sistem untuk mengembangkan pembelajaran agar dapat menemukan suatu keserasian dalam kesinambungan antara siswa dan guru.
Dalam kegiatan belajar mengajar adakalanya seorang siswa mengalami kesulitan, hal ini berarti siswa tersebut mempunyai kelemahan dalam daya pikir dan ingat, serta menangkap dan menganalisis pelajaran yang diberikan.
Adapun faktor-faktor kesulitan belajar yang mendera anak adalah:
-Rendahnya intelektual anak
-Gangguan perasaan atau emosi yang berlebihan
-Kurang matangnya anak dalam belajar
-Usia yang terlalu muda
-Latar belakang yang tidak menunjang
-Kebiasaan belajar yang kurang baik
-Kemampuan mengingat yang rendah
-Terganggunya alat-alat panca indera
-Proses belajar mengajar yang tidak sesuai
-Tidak adanya dukungan dari pihak ketiga
Dengan mengetahui inti permasalahan yang dihadapi anak, maka guru harus dapat mencari jalan keluar untuk memperbaikinya agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Untuk mencari jalan keluar tersebut, guru harus mengambil langkah-langkah mengidentifikasi, mendiagnosis, meramalkan, memberikan perawatan (treatment) dan menindak lanjuti (follow up), sehingga murid yang bersangkutan merasa terbantu sehingga akan berusaha untuk melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik dan berkualitas.
Banyak guru yang hanya menyuruh murid untuk menulis dipapan, sedang dirinya mengantuk, atau bila guru itu tidak mampu menguasai materi yang akan disampaikannya, maka diapun akan mendiktekan pelajaran dan menyuruh murid untuk menuliskannya dibuku mereka.
Bila metode ini dipakai, tentu ini adalah metode bermasalah yang hanya akan membuat anak ini tidak kreati. Dengan kata lain, ungkapan guru digugu dan ditiru menjadi tidak relevan lagi, sedang yang tepat adalah digugu dan turu, karena memang demikian realitasnya. Guru hanya bermalas-malasan dalam mengajar, sehingga murid pun tidak bisa menelaah pelajaran secara luas.
Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa ada yang mau meluruskan, maka muridlah yang paling dirugikan. Murid menjadi kehilangan orientasi belajar sehingga usaha untuk mencerdaskan anak didik menjadi terbengkalai. Selain itu anak didik tidak mampu lagi menelaah apa makna ilmu yang diberikan guru dan juga tidak mampu menganalisis lebih jauh tentang apa yang diajarkan guru waktu itu dikelas.

Kurt Lewin pernah berkatabahwa cara untuk mengupayakan pendidikan itu terbai menjadi tiga, yaitu:
1. Otoriter atau otokratis cirinya adalah banyak pemaksaan dan pemeriksaan sehingga membuat murid kurang inisiatif dan bertanggung jawab.
2. Sosio-integratif, ciri-cirinya adalah murid banyak berinisiatif dan bertanggung jawab, dan pemeriksaan hanya sejauh yang diperlukan saja dan tidak mendetail serta tidak pula mendiktenya.
3. Laisswz-faire, ciri-cirinya adalah pengajar sama sekali tidak melakukan pemaksaan ataupun pemeriksaan
Jika metode otoriter digunakan, maka ketergantungan pada guru akan menjadi sangat besar sehingga muridpun menjadi tidak kreatif dan mandiri. Sedangkan metode Laissez faire hanya akan membuat peran guru hilang dan hanya berperan pada hal-hal yang penting saja sehingga muridpun belajar tanpa ada pengawasan dari seorang guru. Akibat dari metode laissez faire ini, murid yang lemah akan diteror murid yang kuat, sehingga bisa jadi akan terbentuk kelompok-kelompok primodial (kelompok yang merasa benar dan pintar) didalam kelas. Akibatnya kelaspun menjadi pecah dan tidak ada kesepakatam dari masing-masing individu.

[1] Bobbi Deporter dan Mieke Hernachi, Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, (Bandung:Kaifa, 2002) Hal.24
[2] Poerwadarminta, Op cit
[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: 1995, Balai Pustaka, hal 789
[4] http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=152&Itemid=1
[5] . http://kurniawan.staff.uii.ac.id/2008/08/22/mengenali-profesionalisme-guru/
[6] -Mandaru, M.Z. 2005. Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari. Ar-Ruzz: Yogyakarta.
[7]

Music Instrument


MUSIC INSTRUMENT

Musik adalah karya dan budaya manusia, demikian halnya dengan alat musik yang berkembang seiring dengan perkembangan musik.
Mengenai alat musik dan pemakaiannya sejak zaman dahulu yakni pada masa Perjanjian Lama, sampai pada masa sekarang sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat yakni mulai dari alat musik zaman dahulu yang sangat sederhana, dibuat dari berbagai bahan yang dihasilkan dibumi ini, atau dari kulit binatang, tapi alat musik yang sederhana itupun dapat mengahsilkan nada-nada yang indah. Sedangkan pada zaman sekarang melihat semua alat-alat musik sudah ‘elektronik’ sangat canggih. Namun tujuan dari terciptanya alat musik adalah sama, dari dahulu sampai sekarang adalah untuk menghibur [1]
Musik sendiri memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap setiap makhluk hidup, musik bisa mempengaruhi pikiran dan hati manusia. Tanpa disadari musik sangat mempengaruhi suasana hati seseorang. Karena itulah, musik sangat ditekannkan dalam setiap kegiatan besar.
Tuhan pun menyukai musik yang keluar dari sebuah alat musik. Dalam II Tawarikh 5: 12-14 disana memperlihatkan betapa kemuliaan Tuhan Allah memenuhi Bait Allah ketika umatnya mengumandangkan puji-pujian dengan berbagai alat musik. [2]
Sejarah alat musik yang ada pada perkembangan zaman yang ada sebelum zaman sekarang ini menunjukkan beberapa perubahan yang cukup menarik seperti hanya dalam zaman romantik, zaman klasikal, dan zaman yang lainnya Musik dalam periode ini dilatarbelakangi oleh semangat zaman yang sangat terkenal: Age of Enlightenment, yaitu gerakan dalam ide di balik Rasionalisme. Satu abad sebelumnya, Eropa sedang memasuki masa klimaks Humanisme.

Alat Musik Dalam Alkitab

Dalam Alkitab menyatakan bahwa ibadah umat Israel tidak dapat dipisahkan dengan pelayanan dibidang musik. Berdasarkan Alkitab manusia sudah memngenal alat alat musik pada generasi kelima setelah manusia pertama (Adam). Yubal anak Lamekh “Dialah yang menjadi Bapak semua orang yang memainkan kecapi dan suling” (Kej 4: 21), dialah penemu musik dan kitab Wahyu menerangkan bahwa akhir hidup orang yang percaya adalah menyanyi, memuji dan menyembah Tuhan selama-lamanya didalam Surga. [3] Dalam bahasa Ibrani kecapi dan seruling: Ugab yang dipakai untuk menyatakan jenis pipa atau buluh yang digunakan sebagai alat tiup. [4] Itu berarti alat musik dalam Alkitab sudah ada namun jika dilihat dari hal yang diatas maka ada kemungkinan pemakaian alat musik pada masa itu masih jarang.
Adapun pada masa Perjanjian Lama beberapa kitab yang menuliskan bahwa penggunaan alat musik dilakukan untuk memuja dewa-dewa mereka, sebagaimana kisah dari istri-istri Salomo melakukan penyembahan dengan tarian dan alat musik yang cukup riuh. Demikian juga halnya dalam Alkitab yang menuliskan bagaimana sejarah alat musik yang dimainkan oleh bangsa Mesir, Babilonia dan Siria yang mempengaruhi musik orang Ibrani.
Alat musik yang tercantum dalam Alkitab mungkin mirip dengan gambar-gambar pahatan pada kuburan-kuburan dan kuil-kuil dari kebudayaan kuno diTimur dekat. [5]

Walaupun setiap kebudayaan memiliki ciri khas musiknya sendiri. Ada beberapa fakta yang menunjukkan bahwa keberadaan kebudayaan menunjukkan ciri khas yang berbeda satu dengan yang lainnya, Melalui peralatan komunikasi modern diperkenalkanlah berbagai jenis musik dari berbagai kultur yang sering kali jauh berbeda dengan musik di Indonesia sendiri. Misalnya, musik dari Jepang, musik tiup dari Pegunungan Andes, atau tam-tam dart Afrika Tengah. Sedangkan alat musik yang terkenal dari Indonesia adalah suling.
Setiap agama memperkenalkan jenis alat musiknya sendiri. “Dari berbagai penelitian ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan agama menyuguhkan musiknya dalam nada minor. Hampir setiap kali mereka menggunakan pertukaran nada atau irama yang menuntun pada ekstase. Siapa saja yang terbawa hanyut dalam arus ekstase, ia menemukan pintu masuk ke dalam dunia roh, dunia para dewa. Bandingkan dengan Jaran Kepang di Jawa atau tarian Cakalele di Ambon dan Minahasa atau tarian tertentu di Bali yang semuanya diiringi oleh bunyi-bunyian musik tertentu. Semuanya membuat seseorang mengalami sesuatu yang lain daripada kehidupan dunia normal. Dengan kata lain, ia dipimpin oleh musik tersebut untuk mencapai suatu dunia lain, dunia ekstase.” [6]
Dalam tulisannya Mike dalam buku yang berjudul Pelayanan Musik menuliskan bahwa: “Dalam Alkitab, pelayanan yang menggunakan terompet hanyalah pelayanan yang dilakukan oleh penyanyi dan pemusik. Mereka mengemukakan fungsi pelayanan musik yang Alkitabiah diantara: Memanggil orang untuk berkumpul, menyuruh laskar-laskarnya berangkat berperang” [7] dari pernyataan diatas makin jelaslah bagaimana Allah juga bisa memakai alat musik untuk menunjukkan kuasa-Nya.selain daripada itu makin terlihat juga fakta-fakta bahwa dalam Perjanjian Lama alat musik sudah berperan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki.

Alat Musik Pada Awalnya

Alat musik pada dasarnya bersifat objektif (tidak akan mem­­­beri­kan pengaruh apa-apa), namun ketika ada orang yang memainkannya maka alat mu­­sik tersebut akan bersifat subjektif. Karena alat musik itu sekarang menjadi alat dari si pe­main untuk me­nya­lur­kan nuansa perasaan, pengertian dan apa yang ia ingin sam­pai­­kan ke­pa­da orang lain melalui apa yang ia mainkan. Musik mempunyai dua pengaruh be­­sar yang mem­penga­ruhi hidup kita: mu­sik yang ba­ik akan mempengaruhi ke­rohanian kita; musik yang rendah kualitasnya, akan me­nyen­tuh aspek ba­dan kita yang bergerak. Ma­ka alat musik yang sama yang dimainkan se­­cara berbeda akan mem­be­rikan dampak yang sangat berbeda. Sebagai contoh alat musik ti­mur tengah (mis: ke­ca­pi, tam­bo­rin). Mu­sik bukan demikian sederhana, musik mempunyai penga­ruh yang sa­ngat besar dan di­­an­tara alat musik yang paling berbahaya, yang menyentuh ke­da­ging­­­an kita adalah yang bersifat per­kusi. Itu sebabnya orang-orang dari agama ku­no dan yang ingin men­do­rong orang untuk berperang/ melakukan tindakan brutal, selalu meng­gu­­na­kan per­ku­si. [8]
Berbicara mengenai awal dari pemakaian alat musik kita akan melihat bagaimana Lucifer sendiri pada awalnya adalah malaikat yang Allah tugaskan untuk memainkan alat musik yang indah dan sampai pada akhirnya lucifer punya keinginan untuk sama seperti Allah sehingga seorang malaikat yang Allah percayakanpun jatuh dalam dosa dan bagaimana dengan musik dan alatnya yang lucifer gunakan selama ini. Sebagai bagian dari pelayanan Lucifer tampaknya ia dianugerahi keterampilan yang tinggi untuk memainkan alat musik. Dia memainkan alat musik yang merupakan ciri khas tiga kategori musik akuistik yang kita kenal sebagai :
Viol adalah instrumen yang memakai dawai/senar (Ibrani: nebel yang dapat diterjemahkan psaltry atau lyre (gambus) (Yesaya 14: 11). Keluarga viol adalah awal dari biola yang kita kenal sekarang. Alat musik ini sangat populer pada akhir abad ke-14.
Seruling adalah alat musik tiup (Ibrani: negeb).
Genderang adalah alat musik perkusi (Ibrani: toph yang berarti tambur/drum). Dalam Alkitab bahasa Inggris, kata ini diterjemahkan timbrel sebanyak 9 kali dan diterjemahkan tabret sebanyak 8 kali. [9]
Kurt Sachs dalam buku A History of Musical Instruments (Sejarah Alat musik), New York, 1940, menuliskan bahwa alat musik ini dibuat dari selinder kayu dengan lapisan kulit dikedua ujungnya tanpa lempengan yang bergemerincing (yang terdapat pada rebana) atau stik (pemukul).
Hampir tidak diragukan bahwa alat musik pertama yang dibuat adalah alat musik tabuh. Alkitab berkata bahwa Yubal adalah “Bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling” (Kej 4: 21) ayat ini hanya menyebutkan kecapi dan organ, yaitu alat musik senar dan tiup.
Namun menurut legenda, Yubal mendapat ilham dari nada ayunan kapak Tubal-Kain yang memukul logam tempat menempah besi. Not-not yang pertama yang terdengar melalui pukulan melalui benda yang mengahsilkan nada seperti kayu atau batu, kemungkinan menciptakan nada yang tidak pasti dan tidak jelas. Meskipun demikian, kita tahu bahwa nada dihasikan oleh alat musik tabuh. [10]

Alat Musik Zaman Adam

Adam manusia pertama,diciptakan oleh Allah menurut gambar Allah pada hari keenam. Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya, dan manusia itu menjadi mahluk hidup. Dalam penciptaan Adam Allah belum menciptakan alat musik, tetapi sudah menciptakan kepekaan untuk menikmati musik. Pdt Heryanto mengatakan dalam bukun suara metodist “setiap manusia diciptakan Tuhan dengan suatu kepekaan untuk menikmati, mencerna dan mempergunakan musik[11]”. Artinya bahwa dalam penciptaan Adam atau dalam zaman Adam Tuhan sudah menanamkan nilai-nilai seni dalam jiwa manusia untuk mendengar musik dan memainkan Alat musik.
Kalau berbicara tentang pemakaian alat-alat musik dalam diri Adam sendiri, belum ada ditemukan, bahkan dalam Alkitab tidak ada ayat ataupun pasal yang mengatakan Adam memakai alat musik sejak ia di ciptakan. Tetapi “berdasarkan Alkitab manusia sudah mengenal Alat musik pada generasi kelima setelah manusia pertama (Adam). Yubal anak Lamek “dialah yang menjadi bapak semua orang yang memainkan kecapi dan suling” (kej 4: 21, diaalah penemu musik”.[12] Dalam hal ini jika dilihat dari Zaman-zaman para babak leluhur, Yubal termasuk dalam Zaman Adam. Jadi alat musik pada zaman Adam sudah ada, yaitui kecapi dan suling.
Karl-Edmund prier sj, dalam bukunya menyatakan “Dalam Kitab Suci perjanjian lama diceritrakan bahwa Jubol (Yubal) dalah pan cipta Alat musik tiup dal Alat musik berdawai ; disebut pula bahwa ia adalah seniaman musik yang pertama didunia (Kej 4: 21).Jubol disebut-sebut sebagai penumu pencipta Khinnor, yaitu harpa kecil berbentuk segitiga dan ugabah yaitu sebuah seruling. Tetapi ternyata Alat musik tersebut telah dikenal oleh bangsa mesir.” [13]

Alat Musik Zaman Musa

Sebagai pemimpin yang besar, musa punya pengaruh pula bagi bangsa israel. Musa hamba Allah yang menjadi nabi bagi umat pilihan Allah. Musa memiliki tugas untuk memimpin bangsa Isreel kepada penyembahan yang benar dan kembali beribadah kepada Allah yang disembah Abraham, Ishak dan Yakub leluhur bangsa Israel.
Peristiwa keluarnya Israel dari Mesir sangatlah dramatis, berawal dengan tanda yang diberikan Allah kepada Musa sebagai kuasa yang dipercayakan Allah untuk diperlihatkan kepada orang israel (bandingkan Kel: ). Musa melakukan banyak tanda ajaib dengan kuasa dari Allah. Tongkat menjadi ular, adalah bukti awal bahwa misi yang harus dikerjakan Musa berasal dari Allah. Namun kendala yang dialami datang dari Firaun, dimana firaun tidak mengijinkan bangsa tersebut meninggalkan Mesir. Penolakan firaun diiringi dengan Tulah yang menimpa bangsa Mesir, sampai pada akhirnya mengijinkan Musa membawa bangsa Isarel meninggalkan Mesir, meskipun tidak rela sepenuhnya.
Kepergian bangsa Israel dari Mesir setelah Tulah yang terakhir yakni dengan kematian anak sulung di Mesir juga merupakan satu peristiwa yang besar. Bangsa Israel pada akhirnya berhasil keluar dari perbudakan Mesir untuk beribadah kepada Allah yang hidup. Kemenangan Israel menghadapi penyusulan tentara firaun dilaut teberau yang ditandai yang ditandai dengan tenggelamnya tentara berkuda firaun dirayakan dengan nyanyian pujian yang berbalasan dari musa dan rakyat Israel disertai tari-tarian dengan rebana sebagai alat musiknya sebagaimana dituliskan oleh Rosin demikian:
Dan sama seperti perempuan menyambut pemenang, yang pulang dari peperangan,dengan nyanyian dan tarian (umpamanya: 1 Sam 18 : 6-7)demikian pula miryam, saudara saudara perempuan Harun menyambut kemenangan Tuhan dengan membalas nyanyian Musa. Dia di ikuti oleh semua perempuan yang lain yang memukul rebana serta menari-nari: kegembiraan yang meluap-luap, tetapi yang dinyalakan dan dipimpin oleh Roh Kudus yang menghinggapi Miryam, seorang Nabiah.[14]

Kemungkinan besar Rebana adalah alat musik yang sering dipakai oleh orang Israel meski mereka berada dinegeri Mesir, tempat mereka diperbudak selama ratusan tahun. Luapan suka cita Miryam diekspresikan dengan alat musik dan tarian mengiringi lagu atau nyanyian Musa sebagai Ibadah kepada Allah, yakni tanda pengagungan terhadap kebesaran Allah yang telah memberi kemenangan.
Rebana sendiri adalah alat musik Tabuh yang terbuat dari kulit sapi, dan dalam bahasa Ibrani disebut Tumpanon.
Alat Ini sejenis tambur, dipegang oleh tangan yang satu dan dipukul dengan tangan yang satu lagi. Dipakai untuk mengiringi nyanyian dan tarian (Kel 15 : 20). Selalu dihubungkan dalam Perjanjian Lama dengan sukacita dan kegembiraan dan dipakai untuk mengiringi kegembiraan pesta (Yes 5 :12), dan sorak-sorai dari arak-arakan kemenangan (1 Sam 18 : 6).[15]

Alat Musik Zaman Yosua

Sangkakala, kata ini dipakai untuk menterjemahkan beberapa kata Ibrani. a, qeren, harfiah berarti tanduk (Yos 6; Dan 3 : 5). Sangkakala jelas dibuat dari tanduk binatang, tapi kemudian dibuat dari logam dengan meniru bentuk aslinya. b.sopar, tanduk yang agak panjang, dan ujung bawahnya melengkung keatas. Inilah sangkakala nasional Israel, dipakai pada peristiwa-peristiwa militer atau agama untuk memanggil orang berkumpul. Sampai hari ini masih dipakai disinagogeYahudi.[16]
Kita membaca dari Alkitab yang menceritakan bagaimana Yosua dan bangsa Israel menggunakan sangkakala sebagai sarana yang dipakai oleh Tuhan untuk merubuhkan tembok Yerikho yang tebalnya berlapis-lapis (jika dibandingkan dengan tembok zaman sekarang kemungkinan 100 x tebalnya). Bangsa Israel yang pada waktu itu keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan ternyata harus melewati tembok itu dan menghadapi bangsa yang besar. Allah berfirman kepada Yosua untuk mengelilingi tembok sebanyak 7 kali.
Berfirmanlah Tuhan kepada Yosua: “Ketahuilah, Aku serahkan ketanganmuYerikho ini berserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa. Haruslah kamu mengelilingi kota itu yakni semua prajurit harus mengedari itu sekali saja;demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya, dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba didepan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harius mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala. Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu maka haruslah semua bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung kedepan” [17]

Ternyata Allah memakai sangkakala untuk menyatakan kemuliaanNya bagi bangsa Israel dan bagi bangsa-bangsa lain. Dari kutiban diatas jelas sekali bahwa alat musik yang berupa sangkakala adalah salah satu sarana yang Tuhan pakai untuk maksud dan rencanaNya.
Alat Musik Zaman Daud
Dalam kebiasaan bangsa Israel, Musik,menyanyi dan menari adalah biasa dalam pesta, khususnya pesta pernikahan dan memtik buah anggur (Yes 16 : 10). Bahkan Daud sebagai …..dari gembala dipadang sudah biasa memainkan kecapi (1 Samuel 16 : 18). Musik sangat penting dalam kehidupan sosial orang Israel.
Raja Saul juga membutuhkan keterampilan Daud dalam memainkan kecapi, dan Saul terhibur dengan apa yang dilakukan oleh daud. Behkan para putri Yerusalem menari kegirangan dengan memukul-mukul rebana ketika Daud kembali dari peperangan dengan kemenangan yang gilang gemilang.
Selain kecapi dan rebana yang dipakai dalam acara suka cita seperti pesta atau kegirangan karena kemenangan atas peperangan, alat ini juga bisa dipakai dalam suasana duka, khususnya kecapi. Nyanyian ratapan yang dibawakan Daud karena kematian Yonatan sahabatnya (2 Samuel 1 : 18-27) merupakan contoh yang paling jelas.
Telah menjadi kebiasaan menggaji para ahli peratap untuk meratap pada saat-saat berkabung. Dalam hal ini biasanya termasuk para peniup seruling (Matius 9 : 23). Menurut Maimonides, suami termiskin sekalipun diharapkan menghadirkan paling sedikit dua peniup seruling. [18]

Beberapa alat musik yang disebutkan dalam Mazmur 150 antara lain: sangkakala, gambus dan kecapi, rebana, seruling, dan ceracap. Daud dengan latar belakang sebagai gembala sudah terbiasa menggunakan kecapi ketika mengembalakan domba ayahnya, dan perempuan-perempuan Israel sudah terbiasa menabuh rebana. Sesungguhnya, banyak jenis alat musik petik. Bukan hanya kecapi atau harpa, ada juga alat-alat musik lainnya, sebagai mana disebutkan oleh Allan Millaerd “sejenis harpa atau kecapi yang dipakai Daud, ialah sebuah kinor. Rekonstruksi ini terdapat di Haifa Music museum. Inilah alat musik pertama yang disebutkan dalam Alkitab (Kejadian 4 : 21; yang dipakai Daud terbuat dari kayu Saru (2 Samual 6 : 5)”[19]
Alat Musik Zaman Salomo

Salomo anak Daud dari Istrinya Batseba mantan istri Uria, ternyata mewarisi jiwa musik bapanya siraja kecapi itu. Dalam posisinya sebagai Raja Israel menggantikan Daud bapanya, ia meneruskan pendayagunaan musik diistana serta dalam kebaktian di Bait Suci tempat Ibadah yang tetap (2 Tawarik 5 :12-13)[20]
Dari penjelasan diatas salomo adalah orang yang peduli dalam pemakaian alat-alat musik didalam kebaktian dibait suci. Kemungkinan yang dapat dilihat dari raja Salomo adalah dimana ia menjadi seorang anak yang mewarisi bakat seni ayahnya.
Ketika Salomo, anak Daud, menjadi raja dan membangun Bait Allah yang pertama, semarak, pagelaran musik menjadi semakin agung Yosephus, sejarawan Yahudi yang terkenal, menulis bahwa dalam Bait Allah yang pertama ada 200.000 peniup terompet dan 200.000 penyanyi berjubah yang dilatih untuk ikut serta dalam ibadah ini. II Tawarikh pasal lima memberikan laporan tentang hadirnya sejumlah besar penyanyi dan instrumen musik, dalam ibadah tersebut[21]
Dalam pembangunan bait suci yang diadakan salomo, bahkan ibadah yang diadakan di dalam bait itu, peranan alat-alat musik sangatlah nyata dalam kejadian tersebut. Dan tidak hanya jumlah yang sedikit tetapi dengan jumlah yang sangat besar. Dan jika dibandingkan dengan zaman sekarang ini, tidak ada ibadah yang mennggunakan musik sampai dengan 200.000 alat musik.
Mike dan Viv Hibert dalam bukunya mengatakan: “Dan pada Zaman salomo dibuat seratus dua puluh buah Nafiri untuk para imam yang meniupnya pada saat pentahbisan bait suci yang didirikan salomo”[22]. Dalam pernyataan diatas terbukti bahwa pada zaman salomo ditemukan begitu banyaknya alat musik nafiri bahkan pada waktu salomo mengadakan pernikahan dengan wanita mesir dia juga memberikan mas kawinnya dengan 1000 peralatan musik. “Raja Salomo menikah dengan wanita Mesir dengan mas kawin berupa 1000 peralatan musik.”[23]

Alat Musik Zaman Perjanjian Baru

Perbedaan yang terlihat dalam setiap zaman tidaklah terlalu jauh berbeda karena pada dasarnya alat musik selalu menunjukkan sebuah perubahan yang tidak mencolok, sebagai contoh terompet yang pada masa Perjanjian Lama terbuat dari sebuah tanduk domba yang domodofikasi sehingga menjadi terompet sedangkan pada masa sekarang tidaklah berbeda jauh kemungkinan hanya perbedaan bahan yang digunakan, tetapi pada dasarnya fungsi dan bentuknya tidaklah jauh berbeda.
Pada masa menjelang Perjanjian Lama dan memasuki zaman Kristus, bangsa Yahudi membiarkan penyembahan mereka berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi sangat formal. Inilah masa-masa kemurtadan dan ketidakpercayaan, sehingga penyanyi dan alat-alat musik tidak digunakan sebagai sarana penyembahan. Hanya Firman yang digunakan oleh pendeta dan lagu-lagu yang didendangkan oleh pemimpin biduan (penyanyi profesional) saja yang terdengar dalam gereja. [24] jika penulis bisa menyimpulkan dari kutipan diatas jelas sekali terlihat bahwa dengan berubahnya bentuk dan tata cara dalam ibadah maka dalam Perjanjian Baru lebih menfokuskan pada khotbah karena dilatar belakangi oleh keadaan pada masa itu yang mulai menyelewengkan penggunaan alat musik.
Dalam kitab Wahyu juga menjelaskan beberapa hal tentang pangaruh dari alat musik yang dimainkan dengan sederhana tetapi akan menimbulkan efek yang luar biasa. “Dalam Wahyu 14: 2, Yohanes bahkan mendengar suara-suara surga ini berpadu dengan “bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya.” Tiap kali suara ini terdengar dibumi, terjadi peristiwa yang fenomenal. Bila suara yang bergema dari hati umat Allah selaras dengan suara yang bergema dari hati Allah, maka ada penyembahan dibumi seperti disurga” [25]
Dalam bagian ini Mike juga dalam bukunya menuliskan bahwa: “Oleh karena para penyembahan berhala menggunakan alat-alat musik untuk penyembahan, maka mereka dilarang oleh kaum Farisi. Hal ini terjadi setelah penghancuran bait Allah pada tahun 70 s.M. secara simbolis Paulus juga berbicara tentang musik – ‘…suara gong dan gemerincingnya canang’. Selama berabad-abad,banyak terjadi kontroversi dalam gereja tentang penggunaan alat musik dan penyanyi didalam kebaktian penyembahan”. [26]
Ternyata jika kita melihat fakta-fakta sejarahnya maka penulis melihat bahwa sesungguhnya alat musik itu sendiri tidak salah, tetapi yang salah adalah mereka-mereka yang menggunakannya tidak pada tempatnya. Penyembahan berhala yang terjadi baik pada masa Perjanjian Lama yang pada akhirnya membuat satu pergerakkan ditengah-tengah kalangan Farisi. Hal ini sebenarnya harus diwaspadai karena cukup memprihatinkan.
Sejarah Masuknya Alat Musik kedalam Gereja

Jika berbicara mengenai sejarah masuknya alat musik kedalam gereja maka pada awalnya musik secara keseluruhan, mulai dari instrumen, nyanyian dan kegiatan peribadatan digereja sudah begitu menyatu dan tidak dapat dipisahkan. Betapa hambarnya (seperti sayur tanpa garam) jika dalam suatu kebaktian tidak ada musik. Kalau memang tidak ada alat muisk sama sekali jemaat tetap dapat menggunakan mulut untuk menyanyikan kidung pujian, dan biasa juga menggunakan tangannya untuk memberi ritme dengan ketukan.
Musik dalam peribadatan secara terorganisir dimulai sejak zaman Daud. “selanjutnya untuk ibadah Daud dan para panglima menunjukkan anak-anak Asaf, anak anak Heman dan anak-anak Yedutun”. Mereka bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap. [27]

Kemudian dalam pemerintahan Salomo ketika bait Allah sudah berdiri pelayanan alat musik dalam ibadah ini semakin ditingkatkan dan dimantapkan (II Tawarikh 5: 12; 7: 6). Belakangan, ketika Nehemia mentahbiskan tembok Yerusalem digelar juga paduan suara akbar untuk memuliakan Allah (Nehemia 12: 27-43). Itulah perkembangan keberadaan alat musik dan nyanyian dengan kegiatan ibadah.
Masa Renaissance

Tahun 1450-1600, dalam sejarah musik, sering disebut masa Renai sans, suatu istilah yang dipinjam dari seni lukis seperti kata Barok atau Rokoko. Renaisans adalah sebuah kata dari bahasa prancis. Renaisans yang berarti “Lahir Baru.”[28]
Dalam masa ini musik banyak dikembangkan, diciptakan dan diperdengarkan. “Dua faktor terpenting dalam perkembangan ini adalah pencetakan musik polifonok, selain itu, Risalah-risalah tentang bagaimana memainkan berbagai jenis alat mulai diterbitkan sehingga jumlah pemusik-pemusik amatir meningkat oesat.”[29] Musik polifonik awal sering kali disebut Organum dalam Risalah-risalah teoritis. Ada anggapan dari beberapa penulis bahwa istilah musik “organum” ini terkait dengan pemakaian Organ.[30] Jadi dari hal atau pernyataan diatas bahwa musik atau alat musik yang muncul pada masa Renaisans adalah musik Organum atau alat musik organ.
Musik di Zaman ini, belum begitu sempurna bila dipandang dari sudut pandang musik saat ini. Dikatakan belum sempurna karena musik ini tidak memiliki banyak variasi melodi di dalamnya. Cukup sederhana, karena penggabungan antara Bass dan melodinya tidak terlalu rumit dan bila di perhatikan secara musical, bentuk melodinya hanya setiap satu ketukan atau hanya menggunakan not seperempat saja. Sedangkan bassnya hanya dimainkan setiap awal ketukan saja. Birama musik dalam Zaman ini hanya sebatas 4/4 (empat per empat) saja. Dari segi keharmonisannya, musik di zaman ini sudah dapat dikatakan harmonis. Salah satu pemusik yang terkenal di Zaman ini adalah L. Milan.[31]

Salah satu perkembangan yang paling penting dalam musik pada tahun 1450-1600 (Masa Renaisans) adalah perkembangan musik Instrumental. Yang berarti pada masa ini sudah timbul dan sudah dipakai berbagai-bagai alat musik. Dan dibawah ini ada beberapa alat musik yang dipakai pada masa Renaisans, sesuai dengan bagianya.
Pertama: Alat-alat Musik Gesek.
- Viol, Alat musik gesek, mempunyai enam senar yang distem hampir seperti gitar, dengan fret-fret (ukuran yang menentukan interval, sama seperti gitar) pada papan jari.
- Biola, alat misik gesek, mempunyai empat senar.
Kedua: Alat-alat Musik Tiup Kayu.
- Rekorder, alat musik yang populer sekarang untuk anak-anak sekolah.
- Krumhorn, alat musik yang mempunyai reed ganda ditutup didalam suatu selubung yang juga berfungsi sebagai tempat meniup alat itu.
- Shawm atau Pommer, Alat yang mempunyai reed ganda ditiupkan seperti obo, bunyinya keras dan nyaring.
- Dulcian, suatu pendahulu fagot, juga dibuat dalam beberapa suara.
- Kornetto, alat tiup kayu yang berbentuk seperti tanduk. Alat ini ditiup seperti terompet, yaitu melalui getaran dari bibir pemainnya.
Ketiga: Alat-alat Tiup Logam.
- Terompet, hanya harmonok-harmonik alam yang dapat disuarakan
- Trombon atau sack but, hampir sama bentuknya dengan trombon modren. Suaranya lebih halus karena lubang bornya lebih sempit.
Keempat: Alat-alat Musik Petik.
- Lut, salah satu alat yang paling populer pada abad ke-16. senar-senarnya dipetik bukan dengan kuku, melainkan dengan ujung-ujung jari.
- Vilhuela, sejenis lut dengan bentuk badan yang mirip gitar, dipakai di Spanyol, abad ke-16.
Kelima: Alat-alat Musik Keyboard.
- Organ, termasuk organ kecil yang dapat dipindahkan dan memakai suara reed saja (disebut regal). Organ-organ yang besar sering kali dibuat dengan beberapa papan tuts dan papan pedal kaki.
- Harpsikord, senar-senar dipetik oleh plektrum yang dibuat dari kulit atau bulu burung. Harpsikord kecil disebut spinet atau Virginals (di Inggris).
- Klavikord, senar-senar dipukul langsung oleh suatu benda yang terletak pada ujung tuts.[32]

Masa Barokh

Kata Barok (Baroque) dalam beberapa waktu sepanjang sejarah kadang berarti aneh, sangat penuh dengan hiasan, rumit, berbelit-belit, berlebihan serta memenuhi tempat dan wadah, baik dengan tindakan, gerakan, bunyi, hiasan dan warna. Zaman Barok menandai akhir dari zaman Renaissance (kelahiran kembali) dan masuk kedalam zaman yang lebih bersifat feodal dan aristokratis. Zaman ini dimulai tahun 1600 dan diakhiri dengan tahun 1750 dengan wafatnya Johann Sebatian Bach, seorang komponis kenamaan zaman Barok (1685-1750). Terutama dalam masa akhir musik Barok kebanyakan berupa musik musik Poliphony didalam pola musiknya, pola poliphony yang terdapat dalam musik barok berbeda dengan textur poliphony dalam musik renaissance. Dalam musik barok terdapat satu atau dua melodi tema yang berkejar kejaran atau saling berdialog dengan satu sama lainnya, dalam hal ini biasanya bagian treble (sopran) berdialog dengan bagian bass, dan melodi utama keduanya diulang ulang, ini menjadi pola dasar poliphony yang digemari.[33]
Dari kutipan diatas menunjukkan bahwa pada masa Barokh alat musik yang sangat tren dikenal adalah kemungkinan adalah drum dan bass yang dimana dapat kita lihat dari jenis musik yang hasilkan pada masa itu yang bertempo cepat dan kejar-kejaran seolah-olah menunjukkan satu kekerasan lirik lagu. Hal itu juga diperkuat dari sebuah jenis musik yang memang jelas-jelas menunjukkan kekhasan jenis alat musiknya yakni :
Ensemble Basso Continuo biasanya dimainkan oleh dua alat musik, alat musik bass (Cello, Basoon, Contra Bass dll.) dan alat musik keyboard (alatmusik yang berpapan tuts) dalam zaman ini adalah harpsichord (untuk musik sekular) dan organ pipa (untuk musik sakral). [34]

Dalam jaman Barok alat musik terus diperkembangkan. Sebenarnya prosesini sudah dimulai pada jaman Renaissance. Bukan jenis alat musik yang ditambah- kecuali piano (Hammerklavier) – tetapi mutu dari suara, termasuk usaha untuk meningkatkan ungkapan ‘efek’ / perasaan. Maka alat musik yang sukar diperbaiki keindahan bunyinya lama-kelamaan lenyap.[35]
Dalam pernyataan diatas bahwa sesudah di mulainya zaman Renaisans, alat musik sudah pada zaman Barok terus diperkembangkan. Bahkan dalam zaman ini mutu dari suara alat musik tersebut ditambah. Artinya dalam bahwa keberadaan musik yang semula tidak lagi sama, tetapi pada zaman ini mutu dan kwalitas alat musik itu sudah berubah. Dan bahkan pada zaman ini banyak alat-alat musik yang di pakai, adapun alat-alat musik yang di pakai adalah sebagai berikut.
Alat musik yang dipakai pada jaman Barok:
1. Dalam musik istana dan gereja (musik seni): biola, biola alto, cello, lute, gitar, teorbe, harpa, cembalo / harpsichord, organ, flute, horn, trompet, pauken.
2. Dalam musik rakyat: biola sederhana(Oktavgeige), Drehleier (alat gesek dengan dawai bordun), gitar, Hackbrett (Dulcimer semacam sitar), Maultrommel (rinding), pikolo, rekorder (Blockflote), Schalmei (semacam klarinet), Krummhorn (alat tiup kayu), genderang, kastagnet, xilofon, lonceng kecil dan sebagainya. Pada awal zaman Barok masih terdapat sejumlah alat musik tiup kayu (pommer, fagot,raket) yang kemudian lenyap kecuali obo dan klarinet.[36]

Pengaruh Alat Musik Bagi Gereja

Berbicara penagaruh alat musik bagi Gereja, pada saat ini sangatlah berpengaruh. Karena pada saat ini banyak gereja-gereja yang ditemukan yang tidak puas dengan Musik yang dipakainya selama ini (Keybord), dan orang-oarang atau pengurus-pengurus bahkan gembala-gembala gereja tersebut selalu berusaha untuk menambah alat musik dari yang sebelumnya atau membeli alat musik yang lengkap. Dan tidak jarang ditemukan gereja di penuhi jiwa-jiwa setiap kali beribadah karena pengaruh alat musik yang full (Full Band).
Mawene dalam bukunya Gereja yang bernyanyi mengatakan bahwa; “Didalam peribadahan gereja, alat-alat musik pun dipergunakan untuk menunjang suasana dan tujuan peribadahan.”[37] Dalam hal ini pengaruh alat musik bagi gereja atau periabadahan gereja sangat lah penting karena dapat mendorong suasana peribadahan gereja.
Sebagai mana daud serius dalam pendekatan dengan pelayanan musik di bait Allah, hal ini bisa kita kitab I Tawarikh: “Daud menyuruh para pemimpin lewi untuk menunjukkna saudara-saudara mereka sebagai penyanyi untuk menyanyikan lagu gembira yang diiringi oleh musik; “gambus, kecapi dan ceracap” (I Taw 15:16). Juga; “Heman dan Yedutun” bartanggung jawab untuk membunyikan nafiri dan ceracap dan memainkan alat musik lain untuk lagu kepada Allah”. (I Taw 16 : 42). Dan satu-satunya syarat juga untuk pelayanan lewi dalam rumah Tuhan adalah mampu bermain musik, begitu juga mereka yang berfungsi dalam musik memegang peranan yang berpengaruh dalam kehidupan gereja.[38]
Peranan Alat Musik dalam Ibadah Kristen
Berbicara tentang peranan itu sama artinya dengan kegunaan atau maksud. Demikian juga halnya dengan peranan dan maksud kegunaan dari alat-alat musik hal itu menjadi suatu yang vital bagi pelayanan didalam gereja, bagaimana, siapakah, atau apa yang terjadi ketika alat musik dimainkan oleh gereja dalam setiap ibadahnya.
Maksud dari pemakaian alat-alat musik
· Untuk melayani Allah di hadirat-Nya (I Taw 16: 4)
· Untuk memuji Allah (I Taw 23: 5)
· Untuk mengiringi penyanyi dalam sukacita dan puji-pujian (I Taw 15: 16)
· Untuk memanggil dan memimpin jemaat dalam beribadah (Bil 10: 1-10)
· Mempersiapkan Jemaat untuk bernubuat (II Raja 3: 15)
· Untuk menyampaikan nubuat (I Taw 25: 1-3)
· Untuk memimpin dan dimainkan dalam peperangan (Bil 10: 2-10)
· Untuk mengantarkan dan mengumumkan kehadiran Allah (Maz 47: 6)
· Untuk mengajar segala bangsa memuji Allah (Maz 57: 8-10) [39]
Peralatan musik yang digunakan haruslah berhati-hati digunakan karena pada zaman dan akhir-akhir ini banyak penyalahgunaan peralatan musik oleh anak-anak muda Kristen yang kurang bertanggung jawab. Ada beberapa fakta yang nyata dari penggunaan alat musik yang salah oleh mereka-mereka yang kecanduan obat bius. “Musik, yang diciptakan oleh seseorang atau sekelompok musikus yang kecanduan obat bius atau yang kerasukan setan, bisa sangat mengotori kehidupan penggemar musik jenis itu. Sebagai contoh ekstrim, kita tentunya pernah membaca atau mendengar salah satu kelompok musik terkenal di Eropa dan di seluruh dunia, KISS (1979), yang merupakan singkatan resmi dari KNIGHTS IN SATAN`S SERVICE, dalam bahasa Indonesia berarti:"Hulubalang-Hulubalang Setan". Atau "Hamba-Hamba dalam Pelayanan bagi Setan". [40]
Selain daripada itu jemaat beserta seluruh anggota yang berada dan bertanggung jawab atas keberadaan gereja maka haruslah mengusakan ada keseimbangan dalam pemeliharaan dan penggunaan alat musik didalam satu orkestra atau yang disebut sinkronisasi. Diantara berbagai jenis alat musik yang dibunyikan harus ada keseimbangan nada (Misal: drum, gitar, serta piano diberikan pengaturan yang seimbang, tiadak ada yang terdengar lebih dominan dari yang lainnya) sehingga dengan adanya keharmonisan nada-nada alat musik itu maka sekali lagi penulis menyatakan bahwa alat musikpun bisa menjadi satu alat yang membawa jemaat lebih masuk lebih dalam lagi dalam hadirat Tuhan.
Sementara Mewene dalam bukunya menuliskan bahwa alat musik dalam gereja adalah membantu, memandu, dan mengiringi jemaat untuk bernyanyi dengan baik. Sebagai contoh : dalam gereja-gereja Protestan yang mengenal peranan pemimpin pujian, alat-alat musik itu mengambil alaih peranan tersebut.
Merasakan kebaikan TUHAN serta berjalan selaras dengan Firman TUHAN merupakan syarat mutlak dalam Praise and Worship GOD. Kemampuan dan performa pemusik maupun penyanyi lagu rohani bukan jaminan dapat menguatkan iman seseorang yang mendengar suaranya. Namun memuji TUHAN karena telah mengalami kebaikan dan kemurahan TUHAN seperti yang telah dilakukan, akan dapat menguatkan iman orang lain, sehingga menjadi berkat bagi orang lain. [41]
Sebagai masukkan yang mungkin bisa dilakukan adalah gereja yang hidup sudah barang tentu punya keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, salah satunya alat musik yang baik (Jika keuangan gereja lokal mencukupi). Selain daripada itu gereja haruslah mempersiapkan para pemain alat musik lebih diperlengkapi lagi untuk mempelajari alat musik yang lainnya sebagai variasi tambahan. Tuhan mau gereja yang memiliki alat musik agar dapat juga memberikan perhatiannya kepada perawatannya dengan baik dan hati-hati. “kerinduan Tuhan yang terbesar atas hidup kita adalah agar kita mengalami penyembahan surga” [42]
Hal ini menunjukkan bahwa betapa Allah juga menyatakan kuasanya dengan luar biasa melalui perantaraan alat musik.
Ada banyak alat musik yang disebutkan diseluruh Alkitab. Alat tersebut digunakan untuk mempersembahkan puji-pujian kepada Allah. Alat musik itu antara lain: tambur, kecapi, trompet, organ, seruling, alat musik dengan sepuluh tali atau sejenis gitar, cymbal atau canang, simbal yang bersuara sangat nyaring dan lain-lain.

[1] T.n Suara Methodist Indonesia (Medan: Percetakan Methodist, 1940), 34
[2] http://sekolahmingguhkbptamanmini.blogspot.com/2007/03/musik-dalam-alkitab.html

[3] T.n Suara Methodist Indonesia (Medan: Percetakan Methodist, 1940), 34
[4] Mike dan Viv Hibert, Pelayanan Musik, (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2006), 13

[5] Mike dan Viv Hibert, Pelayanan Musik, (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2006), 15

[6] http://sekolahmingguhkbptamanmini.blogspot.com/2007/03/musik-dalam-alkitab.html
[7] Mike dan Viv Hibert, Pelayanan Musik, 18-19
[8] http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2000/20000820.htm
[9] Mike dan Viv Hibert, Pelayanan Musik, (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2006), 12-13

[10] Ray Hughes, Suara Surga Simfoni Bumi, (Jakarta : Nafiri Gabriel, 2001), 87

[11] T.n Suara Methodist Indonesia (Medan: Percetakan Methodist, 1940), 34

[12] Ibid,34
[13] Karl-Edmund prier sj, Sejarah Musik Jilid 1,(yokyakarta Pusat Musik Liturgi,1991),14-15
[14] H.Rosin, Tafsiran Alkitab-Kitab Keluaran, (JKT: BPK GM, 2002),212.
[15] D.G. Strading, “Alat-alat Musik” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini dan K.A.Kitchen , Pen. MH.Simanungkalit, Peny. H.A Oppusunggu.(JKT: YKBK,2002),112

[16] D.G. Strading, “Alat-alat Musik” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini dan K.A.Kitchen , Pen. MH.Simanungkalit, Peny. H.A Oppusunggu.(JKT: YKBK,2002),112

[17] Yosua 6: 2-5
[18] D.G.Steadling dan K.A. Kitcher, “Musik” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 109.
[19] Alan Millard, “Alkitab Perjanjian Lama dan Wilayah timur Dekat Kuno” dalam Hand Book to The Bible. Pen. Ny Yap Wei Fong dkk. Peny. Ny Pauline Tiendas (Bandung :Kalam Hidup,2004),268

[20] Diktat darma Agung
[21] Sumber: Kenneth W. Obsek, The Ministry of Music, Kraaal Publiestinn. Grand Rseids. 1971.http://gema.sabda.org/sejarah_perkembangan_musik_rohani.

[22] Mike dan Viv Hibert, Pelayanan Musik, 224
[23] Ibid 15
[24] Mike dan Viv Hibert, Pelayanan Musik, 35
[25] Ray Hughes, Suara Surga Simfoni Bumi, (Jakarta : Nafiri Gabriel, 2001), 77-78

[26] Ibid, 35
[27] Soemitro. Musik Gereja yang Bagaimana, (Bandung: Kalam Hidup, 2008), 32

[28] Rhoderick J. McNeill, Sejarah Musik 1, (Jakarta: BPK Gunung Mulia;1998),66
[29] Ibid, 66
[30] Rhoderick J. McNeill, Sejarah Musik 1, (Jakarta: BPK Gunung Mulia;1998), 26
[31] http://etnomusikologi.informe.com/pengaruh-perubahan-zaman-musik-pada-gereja-kristen-protestan-dt42.html

[32] Rhoderick J. McNeill, Sejarah Musik 1, (Jakarta: BPK Gunung Mulia;1998),145-146
[33] http://musica_ursuliana.blogs.friendster.com/my_blog/
[34] http://musica_ursuliana.blogs.friendster.com/my_blog/

[35] Karl-Edmund prier sj, Sejarah Musik Jilid 1,(yokyakarta Pusat Musik Liturgi,1993), 13
[36] Karl-Edmund prier sj, Sejarah Musik Jilid 1,(yokyakarta Pusat Musik Liturgi,1993),14
[37] Mawene, Gereja yang Bernyamyi, (Yogyakarta: ANDI, 2004), 67
[38] T.n Suara Methodist Indonesia (Medan: Percetakan Methodist, 1940),36
[39] Ibid, 58-59
[40] http://sekolahmingguhkbptamanmini.blogspot.com/2007/03/musik-dalam-alkitab.html
[41] http://www.tabernakel.org/renungan/?id=11062601
[42] Ray Hughes, Suara Surga Simfoni Bumi,( Jakarta : Nafiri Gabriel, 2001), 78