Selasa, 28 Juli 2009

PEMULUNG

PENDAHULUAN


Didunia ini dimana ada orang kaya sudah barang tentu ada orang miskin. Tetapi yang menjadi masalahnya adalah seberapa banyak orang Kristen atau gereja yang mau memperhatikan keadaan orang miskin yakni komunitas marginal, sebagai contoh adalah komunitas pemulung. Alkitab sendiri berbicara banyak tentang bagaimana orang percaya harus memperlakukan orang miskin dan melarat. Dalam berbagai cara Allah telah mengungkapkan perhatian yang besar bagi orang miskin yang kekurangan dan tertindas. [1]

Latar Belakang Masalah

Begitu jauh dari perhatian, komunitas pemulung menjadi suatu komunitas yang terabaikan, mereka yang sering disamakan dengan komunitas “miskin” , yang tentu saja memiliki hak dan kewajiban sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Komunitas pemulung ini lebih cenderung memiliki sikap yang kurang perhatian terhadap dirinya sendiri, karena hidup mereka penuh kekerasan, kelemahan fisik dan intelektual. Bahkan lebih daripada itu ketidakmampuan mereka untuk bersosialisasi atau mengembangkan diri menjadi beban yang sangat besar yang mereka alami.
Untuk bisa hidup lebih baik terkadang mereka lebih memilih untuk tidak bergantung kepada siapapun, termasuk kepada Tuhan yang mereka perjuangkan hanyalah “perut” mereka saja tanpa harus perlu untuk mengenal siapa itu Tuhan, beribadah, doa dan apa itu gereja. Dengan waktu yang ada para pemulung menggunakan waktu itu untuk mencari uang bahkan secara khusus pada hari Minggu.
Dalam koran Kompas yang memuat tentang opini, disana penulis membaca hasil penelitian seorang mahasiswa. Mahasiswa yang sekarang masih studi di Hitotsubashi University, Jepang. Dalam penelitiannya menegaskan bahwa : “jika kita telaah lebih dalam persentase penduduk miskin pedesaan tahun 2006 (21,90 persen) lebih tinggi 2,12 persen dibandingkan tahun 1996 (19,78 persen)”. [2] Dari hal ini penulis melihat betapa kurangnya perhatian terhadap kemiskinan, terkadang sebagian orang hanya akan mengatakan rasa kasihannya saja tanpa mau untuk ambil tindakan yang nyata.
Dengan adanya fakta itu maka penulis merasa penting membahas dan mengangkat judul skripsi ini. Karena keadaan itu, Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI) kmerasa terpanggil untuk ikut berperan menjangkau komunitas pemulung ini dan gereja juga terpanggil untuk memberdayakan mereka. Gereja merasakan dengan kurangnya perhatian kepada para pemulung ini maka gereja GPIBI mengambil bagian untuk meningkatkan kehidupan rohani mereka dengan kata lain menjangkau mereka bagi Kristus dan memberdayakan mereka dalam segala bidang termasuk dalam pekerjaan Tuhan.
Sebagai Penulis yang membahas tentang keberadaan mereka, sekaligus penulis ada didalam pelayanan komunitas pemulung ini merasa terbeban dan ingin rasanya memberikan mereka suatu dorongan untuk menjadi yang lebih baik.
Namun untuk itu diperlukan adanya kerelaan hati juga dari para pemulung itu sehingga proses yang mereka alami dapat dicerna dengan baik.
Tujuan Penulisan
Skripsi ini disajikan oleh penulis adalah bertujuan untuk:
Pertama, Membahas peranan gereja Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia dalam penjangkauan dan pemberdayaan komunitas pemulung.
Kedua, Menambah pemahaman tentang orang Miskin atau pemulung itu yang ditinjau dari dari pandangan Perjanjian Lama, Perjanjian baru, Sejarah Gereja, serta tinajuan Teologis.
Ketiga, Memberikan motivasi gereja-gereja dalam memberdayakan komunitas marginal secara khusus para pemulung. Dimana gereja tidak hanya meningkatkan kerohaniannya tetapi juga kehidupan materinya.
Hipotesa

Hipotesa atau hipotesis yang sering juga disebut pendapat sementara atau anggapan dasar yaitu sesuatu yang dianggap benar meskipun kebenarannya masih harus dibuktikan. [3]Maka dalam kesempatan ini penulis mempunyai hipotesa bahwa peranan Gereja Perhimpunan Injli Baptis Indonesia dalam menjangkau komunitas miskin/ marginal khususnya para pemulung di Simpang Kongsi sangat besar karena visi dan misi GPIBI “Air Kemuliaan” diSimpang Kongsi adalah berfokus kepada penjangkauan dan dan pemberdayaan jemaat marginal.

Manfaat Penulisan

Manfaat yang diharapkan oleh penulis dalam tulisan atau dalam skripsi ini adalah, agar skripsi ini bermanfaat :
Pertama, Sebagai wahana bagi penulis dalam mengembangkan kemampuan menyusun karya ilmiah secara baik dan faktual
Kedua, Sebagai bahan masukkan bagi para pembaca mengenai bagaimana komunitas pemulung dapat dijangkau, baik secara rohani dan secara pemberdayaan.
Ketiga, Sebagai bahan masukkan bagi gereja-gereja dalam memikirkan jiwa-jiwa, secara khusus komunitas “miskin” atau pemulung. Terutama gereja-gereja yang melayani dalam jemaat yang “miskin”.
Keempat, Sebagai sumbangsih pemikiran yang sederhana dari penulis untuk almamater penulis sendiri yakni, Sekolah Tinggi Theologia Injili Indonesia.
Pembatasan Masalah

Untuk menghemat biaya yang akan dipakai dan waktu yang akan dipergunakan untuk membuat skripsi ini maka penulis menganggap perlu diadakan pembatasan masalah.
“sebab itu pembatasan masalah perlu memenuhi syarat dalam perumusan yang terbatas, pembatasan ini bukan saja memudahkan atau atau menyederhanakan masalah bagi penyelidikan tetapi juga pemecahannya, tenaga, kecekatan ongkos dan lain-lain yang timbul dalam rancangan tersebut” [4]

jadi, dalam hal ini penulis cukup membatasi masalah seputar peranan gereja GPIBI dalam menjangkau dan memberdayakan komunitas pemulung saja, dalam arti seputar bagaimana meningkatkan pola hidup para pemulung, dengan metode-metode yang benar sehingga para pemulung tidak hanya baik dalam hal materi, tetapi juga dalam hal rohaninya kepada Tuhan.
Daerah yang akan dibahas didalam skripsi ini adalah daerah Simpang Kongsi-Pancur Batu. Daerah ini adalah daerah dimana terdapat begitu banyak pemulung dan hampir rata-rata mata pencaharian penduduk disana adalah sebagai pemulung. Simpang Kongsi ini juga adalah daerah tempat pembuangan sampah dari kota, yakni pembuangan sampah Medan sekitarnya, ada sekitar puluhan hektar lahan yang digunakan untuk tempat penampungan sampah-sampah tersebut.
Peniulis akan menggambarkan letak daerah Simpang Kongsi ini dengan gambar yang sederhana.






Gbr: lokasi Simpang Kongsi-Pancur Batu

Metode Penulisan

Metode merupakan cara yang dipakai untuk suatu tujuan sehinggga metode penulisan yang dipakai dalam karya ini antara lain : riset perpustakaan (Library research), yaitu pengumpulan data-data dan keterangan melalui literature-literature yang mendukung pokok bahasan. Penelitian (riset) adalah “penggunaan media ilmiah yang bersifat formil dan sistematis untuk mempelajari masalah, memang untuk mencapai karya ilmiah ad dua metode, salah satunya lagi adalah penelitian lapangan yangh dipakai untuk melengkapi riset kepustakaan, ketika mengamati pola kehidupan komunitas pemulung di gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia, Simpang Kongsi, Pancur Batu.”
Penelitian seperti itu melakukan pembuktian secara teori (dalam tinjauan pustaka) dan dengan pengujian dengan data-data secara empiris (pada penelitian lapangan). Tinjauan kepustakaan pengidentifikasian, penjelasan dan penguraian secara sistematis dokumen-dokumen yang mengadung informasi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.
Metode Deskriptif dipakai dalam penulisan ini.
“jenis dan corak pertanyaan menentukan keberhasilan wawancara terbuka, yaitu pertanyaan deskriptif, pertanyaan Struktural dan pertanyaan Kontras” [5]
Deskriptif adalah menuturkan dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi yang dialami, suatu hubungan kegiatan, pandangan, sikap yang nampak atau tentang suatu proses yang sedang berlangsung, pengaruh yang sedang bekerja, kelainan yang muncul, pertentangan yang meruncing.
Definisi Istilah

Istilah “pemulung” sering diidentikkan dengan kata “orang miskin” yang dalam arti sederhananya adalah orang yang berhubungan dengan keadaan ekonomi dan sosial. Tetapi istilah “pemulumg” yang sama dengan miskin ini bukanlah suatu istilah yang mutlak tetapi adalah istilah yang relatif. Dan pada dasarnya kata “pemulung” dipakai untuk menunjukkan suatu profesi atau suatu pekerjaan yang dikerjakan oleh beberapa orang sehingga mereka dikatakan sebagai komunitas pemulung.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemulung adalah: “orang yang mencari nafkah dengan jalan mencari dan memungut serta memanfaatkan barang bekas”[6] kata Menjangkau ialah



Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan isi skripsi ini maka penulis membaginya kedalam 5 bab yang dirangkai secara teratur dan sistematis yaitu sebagai berikut:
Bab Pertama: berupa pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, hipotesa, metode penulisan, definisi Istilah dan sistematika penulisan.
Bab kedua: uraian mengenai tinjauan literal terhadap pelayanan komunitas miskin atau pemulung/ marginal dimana akan dibahas beberapa tinjauan terhadap kaum miskin didalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, tinjauan Sejarah Gereja serta Tinjauan Teologis.
Bab ketiga: uraian tentang peranan Gereja Perhimpunan Injili Indonesia dalam menjangkau dan memberdayakan komunitas miskin/pemulung di Simpang Kongsi. Beberapa peranan gereja akan dibahas diantaranya: pendekatan terhadap komunitas pemulung, penyampaian Firman dan penginjilan, pemuridan dan peneguhan Jemaat serta pemberdayaan Jemaat miskin/pemulung.
Bab keempat: didalamnya membahas bagaimana implementasinya terhadap gereja masa kini yang mengarah kepada motivasi untuk membuka pos-pos PI yang baru guna menjangkau lebih banyak jiwa, keberhasilan gereja dalam meningkatkan pola pikir dan karakter komunitas miskin, serta menciptakan komunitas miskin yang ramah lingkungan.
Bab kelima, diuraikan kesimpulan akhir dan saran yang bertujuan untuk memberikan masukkan kepada pembaca
Selain itu dalam skripsi ini akan dimasukkan lampiran-lampiran dan daftar kepustakaan.
[1] Donald C.Stamps.C., Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Jakarta : Gandum Mas dan Lembaga Alkitab Indonesia), 2004, 1410

[2] Artikel: Teguh Dartanto, Kemiskinan Pedesaan dan “seasonal Cash For Work”, (Kompas, Jumat, 23 Februari 2007), 13
[3] TPKP3, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 906

[4] Winarno, Surakmad. Pengantar Penelitian ilmiah, (Bandung: Tarsito, 1982), 34
[5] John Mansford Prior, Meneliti Jemaat : Pedoman Riset Partisipatoris, (Jakarta: Grasindo, 1997), 121
[6] TPKP3, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 906

Tidak ada komentar: