Selasa, 26 Mei 2009

Pemulung (Skripsi)


PEMULUNG

Kemiskinan sebagai masalah global, tidak dapat hanya diselesaikan oleh sepihak lewat berbagai kebijaksanaan pembangunan, tetapi juga harus menjadi tanggung jawab bersama bagi semua pelaku pembangunan termasuk masyarakat itu sendiri. Memang ironis bahwa walaupun kemiskinan merupakan sebuah fenomena yang setua peradaban manusia, tetapi pemahaman terhadapnya dan upaya mengentaskannya belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Bahkan di Indonesia dengan terjadinya krisis ekonomi orang miskin “baru” semakin bertambah.
Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya mempunyai 49,5 juta jiwa penduduk yang tergolong miskin (Survai Sosial Ekonomi Nasional / Susenas 1998). Jumlah penduduk miskin tersebut terdiri dari 17,6 juta jiwa di perkotaan dan 31,9 juta jiwa di perdesaan. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat banyaknya dibanding angka tahun 1996 (sebelum krisis ekonomi) yang hanya mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 7,2 juta jiwa di Perkotaan dan 15,3 juta jiwa perdesaan. Akibat krisis jumlah penduduk miskin diperkirakan makin bertambah. [1] Meskipun kemiskinan pernah menurun drastis pada kurun waktu 1976-1996, 40,1% menjadi 11,3% dari total penduduk Indonesia, orang miskin meningkat kembali pada periode 1996-1999. Akibat krisis multidimensional yang menerpa Indonesia, jumlah penduduk miskin pada periode 1996-1998, meningkat tajam dari 22,5 juta jiwa (11,3%) menjadi 49,5 juta jiwa (24,2%) atau bertambah sebanyak 27,0 juta jiwa (BPS, 1999). Hasil pendataan BPS yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan, penduduk miskin pada 2004 sebanyak 36,1 juta jiwa atau setara dengan 9 juta rumah tangga miskin. BPS memperkirakan rumah tangga miskin secara nasional tahun 2005 mencapai 15,5 juta jiwa atau sama dengan 62 juta jiwa penduduk miskin (PR, 17 September 2005). [2]
Ada beberapa pandangan yang menyebutkan bahwa para pemulung kurang mendapat pelayanan yang baik, karena dengan adanya komunitas yang miskin maka pandangan terhadap orang miskin terkadang salah bahkan ada beberapa orang yang menganggap dirinya miskin dan hampir semua orang ingin mendapat perhatian dari orang lain. Hal ini yang menyebabkan sulitnya membedakan mana yang miskin dan mana yang kaya.
Siapakah yang disebut Orang Miskin? Pertanyaan ini selalu muncul pasda orang yang sedang melakukan pekerjaan upaya pengentasan kemiskinan. Walau sudah banyak sekali program yang dikembangkan oleh berbagai pihak (pemerintah dan non pemerintah) yang berskala kecil maupun besar tapi tetap saja persoalan kemiskinan yang menimpa bangsa kita belum berakhir. Masalah kemiskinan selalu berpaut dengan permasalahan yang ada di kehidupan kita, antara lain: permasalahan ekonomi, pendidikan, sosial budaya, politik, ideologi dan lain-lain. Satu dengan yang lain saling kait- mengait. Berbagai pengertian dan definisi tentang kemiskinan dirumuskan oleh para ahli dan pembuat kebijakan agar upaya pengurangan kemiskinan betul-betul efektif. Pendefinisian kemiskinan adalah salah satu upaya dalam kerja besar pengentasan kemiskinan. Pihak-pihak yang melakukan hal tersebut tentunya sudah mempunyai gambaran utuh mengenai kemiskinan, faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan dan juga tingkat keberhasilan dan kegagalan dalam kegiatan pengurangan kemiskinan .
Menurut pandangan H.S. Pulungan dalam bukunya menuliskan bahwa :
“Ada 5 ciri orang miskin, yaitu kemiskinan, fisik yang lemah, kerentanan, keterisolasian dan ketidakberdayaan ” [3] kemiskinan yang dimaksudkan oleh H.S.Pulungan adalah seseorang yang selalu kekurangan uang (materi) untuk membeli makanan pokok sehari-hari, termasuk juga didalamnya kekurangan sandang, dan tdak memiliki rumah yang sah milik sendiri. Fisik yang lermah berarti orang yang miskin yang tidak memiliki daya tahan terhadap penyakit karena kurangnya gizi makanan. Sementara kerentanan adalah orang miskin yang selalu mudah untuk mendapat masalah baik masalah penyakit ataupun masalah keuangan.
Keterisolasian juga dijelaskan oleh HS. Pulungan yang artinya adalah orang miskin terikat dengan kehidupan mereka yang miskin sehingga mereka tidak mampu untuk mencoba sesuatu yang baru, misalnya sekolah hal itu mengakibatkan mereka tidak bisa bebas mengekspresikan kemampuan mereka. Sedangkan ketidakberdayaan berarti orang yang miskin yang tidak memiliki kemampuan untuk berkarya dan membela hak-haknya. [4]
Jika kita memberikan pendapat tentang pemulung adalah orang yang berhubungan dengan kurangnya ekonomi walaupun kata “miskin” adalah relatif tergantung dari bagaimana orang memandang dirinya sendiri. Dengan kerelatifan itu maka dari segala sudut kita dapat melihat bagaimana kemiskinan itu sendiri.
“Karena kemiskinan itu dapat dipandang dari berbagai sudut maka perbedaan pertama yang segera terlihat adalah kemiskinan fisik dan kemiskinan spiritual. Ada sekelompok orang yang yakin biarlah miskin didunia asalkan tidak miskin di akhirat. Ada juga yang yakin bahwa kemakmuran (jalan menuju) akhirat tidak dapat digabungkan dengan kemakmuran dunia. Dalam tulisan ini, persoalan pengentasan kemiskinan itu lebih difokuskan pada pengertian kemiskinan fisik, dengan tetap menyadari bahwa kemiskinan spiritual itu tetap ada, bahkan kadang-kadang ada kaitan timbal balik antara kemiskinan fisik dan kemiskinan spiritual” [5]
hampir sama halnya dengan Mulyanto Sumardi yang dalam bukunya kemiskinan dan kebutuhan pokok menuliskan bahwa :
“ciri kemiskinan antara lain :
1. Kekurangan nilai gizi, makanan jauh dibawah normal/ bukan kurang makan
2. Hidup yang morat- marit
3. Kondisi kesehatan yang menyedihkan
4. Pakaian selalu kumal tak teratur
5. Tempat tinggal yang jauh dari memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan (sempit, pengap, kotor)
6. Keadaan anak-anak yang tidak terurus/ dibiarkan bergelandangan memenuhi kebutuhan masing-masing
7. Tidak mampu mendapatkan pendidikan formal/ non-formal (ketiadaan biaya dan lemah kecerdasan)” [6]

Dengan adanya ciri-ciri diatas komunitas pemulung di Simpang Kongsi ternyata memang benar-benar sebuah komunitas miskin, dengan kata lain orang miskin adalah melaratdan malang, sakit dan membutuhkan pakaian ala kadarnya. Kita dapat tambahkan lagi: baginya cukuplah sekedar dapat mempertahankan hidup. Ia adalah peminta-minta hidup dari sedekah orang lain, mengambil sisa-sisa kepunyaan orang sama halnya dengan pemulung yang memungut sampah-sampah yang telah dibuang orang lain dan dimanfaatkan.
Para pemulung di Simpang Kongsi harus berjuang pada pagi hari dan pada sore harinya mereka barulah mendapat makanan yang mereka dapat dari hasil penjualan plastik asoi yang dikumpulkan dan timbang kepada seorang tokeh tetap. Pemulung ini harus menjualnya kepada tokeh tetap itu walaupun ada tokeh lain yang membuat harga lebih tinggi dari tokeh mereka sendiri, hal itu terjadi karena rata-rata para pemulung ini menempati rumah kontrakan sang tokeh tersebut, jika pemulung melanggar maka mereka akan diusir dari kontrakan itu. Sama halnya dengan ketidakberdayaan pemulung untuk memberontak karena pada dasarnya orang miskin selalu dibawah dan tidak boleh bicara.
Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada zaman modern. [7]
Kemiskinan dalam berbagai bidang ini disebut dengan kemiskinan plural. Menurut Max Neef et.al, sekurang-kurangnya ada 6 macam kemiskinan yang ditanggung komunitas, yaitu:
Kemiskinan sub-sistensi, penghasilan rendah, jam kerja panjang, perumahan buruk, fasilitas air bersih mahal
Kemiskinan perlindungan, lingkungan buruk (sanitasi, sarana pembuangan sampah, polusi), kondisi kerja buruk, tidak ada jaminan atas hak pemilikan tanah.
Kemiskinan pemahaman, kualitas pendidikan formal buruk terbatasnya akses atas informasi yang menyebabkan terbatasnya kesadaran atas kemampuan dan potensi untuk mengupayakan perubahan.
Kemiskinan partisipasi, tidak ada akses dan kontrol atas proses pengambilan keputusan yang menyangkut nasib diri dan komunitas.
Kemiskinan identitas, terbatasnya perbauran antar kelompok sosial, terfragmentasi.
Kemiskinan kebebasan, stress, rasa tidak berdaya, tidak aman baik ditingkat pribadi maupun komunitas. [8]
Bila ditinjau dari konsep kebutuhan, maka 6 macam kemiskinan ini bisa diatasi dengan memenuhi kebutuhan praktis sedang kemiskinan yang lain diatasi dengan pemenuhan kebutuhan strategis.

Pemulung

Seperti yang sudah dijabarkan pada bab 1, istilah pemulung sering di identikkan dengan kata “orang miskin” yang arti sederhananya adalah orang yang berhubungan dengan keadaan ekonomi serba kekurangan dan kehidupan sosial yang selalu dikucilkan atau tidak diperhatikan orang. Tetapi istilah “pemulung” yang sama dengan miskin ini bukanlah istilah yang mutlak tetapi istilah yang relatif.
Menurut Wolfgang Stegemann menuliskan bahwa:
“Kemiskinan adalah istilah yang relatif. Pengertian semula dari istilah ini menggambarkan syarat kehidupan manusia secara lahiriah, ekonomis dan sosial ! kenyataan hidup yang digambarkan di dalampengertian ini tentunya sangat bergantung pada situasi sosial ekonomi masyarakat umumnya dan tempat yang bersangkutan itu sendiri secara khusus” [9]

Dengan relatifnya istilah kemiskinan yang dimana setiap orang merasa kurang dan merasa tidak memiliki. Ada 2 kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, kemiskinan alamiah dan karena buatan. Kemiskinan alamiah terjadi antara lain akibat Sumber Daya Alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan buatan terjadi karena lembaga-lembaga yang ada dimasyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia, sehinggga mereka tetap miskin maka itulah sebabnya para pakar ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang melulu terfokus pada pertumbuhan ketimbang pemerataan. [10]
Gereja-gereja juga seharusnya melakukan hal yang sama yakni melakukan pemerataan bukan pertumbuhan , karena dengan difokuskannya hanya kepada pertumbuhan maka akan terjadi perbedaan yang mencolok tetapi jika yang difokuskan adalah pemerataan maka akan ada kesamaan yang baik sekali, dari segi rohani dan secara materi. Demikian akan tercapai satu keseimbangan antara orang kaya dan miskin, keduanya saling memperhatikan.

Secara Etimologi

Berbicara istilah miskin kita menemukan begitu banyak pandangan, bahkan termasuk dari Alkitab sendiri yakni dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Walaupun demikian sekali lagi bahwa istilah miskin itu relatif dan tidak mutlak. Dalam masyarakat kita kata kemiskinan mempunyai arti negatif. Dari kata itu langsung terbayang tentang kehidupan buruh tani atau buruh pabrik beserta keluarganya yang ekonominya serba susah, pemulung, pengemis serta orang-orang yang terabaikan lainnya. Penghasilan mereka tidak mencukupi untuk hidup sebagaimana layaknya sebagai manusia . apalagi orang-orang tuna kerja, tuna wisma dan sebagainya. Kemiskinan semacam itu dengan spontan kita tolak, sebab memalukan dan karena itu mau kita hapuskan dari tengah masyarakat.
“Dalam Perjanjian Baru istilah Yunani yang paling sering digunakan untuk menggambarkan kemiskinan adalah istilah ptochos istilah lain yang banyak kita temukan dalam kesusastraan Yunani kuno adalah penes, yang di dalamPerjanjian Baru hanya kita jumpai dalam II Kor 9: 9, dalam kaitannya dengan sebuah kutipan Perjanjian Lama. Dan istilah penichros yang sejenis dengan itu, hanya terdapat satu kali, yakni dalam Lukas 21: 2. …. Biasanya penggunaan istilah “miskin” dalam Perjanjian Baru dalam arti yang asli dan berhubungan dengan keadaan ekonomi-sosial.” [11]

Kecenderungan pemakaian istilah ptochos untuk menjelaskan kemiskinan, mempunyai dasar dalam situasi kehidupan nyata dari manusia yang bersangkutan, mereka adalah orang yang sangat miskin yang berjuang untuk mengatasi penderitaanya demi mempertahankan hidup yang lebih lama lagi. Jika dibandingkan antara ptochos dan penes, maka seorang ptochos tidak memiliki sesuatu apapun juga sedangkan seorang penes masih memiliki sedikit harta, namun ia harus hidup menghemat. [12]
Kata-kata yang dipakai dalam Alkitab untuk menunjukkan orang miskin sudah membuktikan bahwa kemiskinan dipandang sebagai sesuatu yang negatif : orang tertekan, terbungkuk (ani) orang yang bergantung kepada orang lain (dal), orang berkebutuhan sehingga harus meminta-minta (ebyon, ptochos). Dengan kata-kata itu, orang-orang miskin sudah digambarkan berada dalam keadaan yang ditolak dan diprotes. [13]
Pola Hidup Pemulung

Pola hidup berarti suatu sistem kehidupan yang sehari-harinya dilakukan dan diaplikasikan mengakibatkan suatu bentuk kebiasaan atau cara kerja yang selalu dilakukan. Sebagai contoh, manusia memiliki pola hidup sebagai makhluk yang konsumtif. Demikian halnya dengan para pemulung di Simpang Kongsi ini mereka memiliki pola hidup yang sangat khas dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat lain yang memiliki pekerjaan di luar pemulung.
Para pemulung di Simpang Kongsi ini memiliki pola hidup yang sangat menyedihkan. Setiap harinya para pemulung memiliki jam-jam kerja yang sudah terpola dengan baik dan rutin dikerjakan setiap hari. Tepat pada pagi harinya para pemulung akan mempersiapkan dirinya untuk berangkat pagi-pagi benar untuk berlomba sampai di tempat pembuangan sampah. Setiap keluarga pemulung telah membawa segala perlengkapan, baik makanan atau minuman dan gancu sebagai alat untuk mengambil sampah-sampah tersebut. Para pemulung ini mendapatkan hasil yang dicari pagi untuk makan malam.
Pengalaman yang paling menusuk perasaan penulis melihat pria-wanita dan anak-anak mengais sisa makanan di tempat pembuangan sampah. John Stott dalam bukunya menuliskan bahwa “pria dan wanita dan anak-anak mengais-ngais sisa makanan ditempat pembuangan sampah tak ubahnya anjing-anjing. Memang, kemiskinan yang amat sangat sungguh merendahkan martabat. Manusia dijabarkan menjadi setingkat dengan binatang.” [14] Bagaimana rasanya jika kita dalam posisi demikian maka sangat peliknya dan lengkaplah penderitaan itu. Tetapi pada faktanya keberadaan manusia yang demikian hanya menjadi bahan atau objek orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Para pemulung yang tinggal di Simpang Kongsi ini adalah satu komunitas yang memiliki pola hidup yang sangat rentan dengan bahaya yang mengancam maut. Ada beberapa pola kehidupan pemulung yang sangat mencolok dilihat, pola kehidupan tersebut adalah pola yang bersifat negatif, salah satunya adalah tabiat berjudi, kebiasaan pergi ke warung-warung “tuak” dengan kondisi yang setiap malam harus menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan teman-teman mereka. Karena dengan adanya kebiasaan tersebut maka muncul suatu pola kehidupan. Pola kehidupan pemulung yang ada ternyata adalah juga merupakan pola kehidupan yang menjadikan miskin. Kekurangan individu yang tertentu boleh mencetuskan kemiskinan. Kelemahan individu ini biasanya kelemahan yang ketara dan boleh menyebabkan seseorang itu miskin, walaupun dia berada dalam suatu masyarakat yang penuh dengan peluang rezeki. Kelemahan individu ini adalah seperti berikut:
1. Tabiat Berjudi
Tabiat berjudi adalah satu amalan yang menyebabkan sesorang itu miskin. Ini adalah karena orang yang berjudi, khususnya mereka yang ketagihan berjudi, akan banyak kehilangan harta dalam aktiviti berjudi, dan mereka seringnya hilang tumpuan dalam pekerjaan karena melekat dalam perjudian.
2. Ketagihan Dadah
Orang yang ketagihan dadah sukar untuk melaksanakan suatu pekerjaan karena badan mereka lemah. Ketagihan dadah artinya adalah kebiasaan mabuk atau minum minuman keras. Mereka juga akan banyak kehilangan harta dalam membeli dadah. Kemisikinan yang dihadapi oleh mereka adalah berpanjangan karena ketagihan dadah adalah sesuatu yang amat sukar untuk dilepaskan.
3. Sakit Badan
Dengan lemahnya fisik dapat mengakibatkan seseorang tidak bisa melakukan aktifitas pekerjaan mereka sehingga akibatnya orang tersebut tidak bisa mendapatkan uang yang cukup. Sakit badan merupakan salah satu penyebab kemiskinan, jadi kesehatan tubuh sangat perlu dalam kehidupan.
4. Masalah Kepribadian
Pada umumnya yang menyebabkan kemisikinan ialah sikap malas. Sikap malas itu dicerminkan dalam tingkah laku seperti suka berkhayal, suka beromong kosong, dan juga "elak kerja". Orang yang malas adalah kekurangan produktiviti dan mereka akan hilang banyak peluang untuk mencari rezeki. [15]
Bukan hanya pola hidup yang tidak benar itu saja yang menjadikan para pemulung banyak mengalami penderitaan kemiskinan tetapi juga berawal dari sikap hidup mereka yang penuh dengan kekerasan yang sampai pada akhirnya menyebabkan konflik diantara mereka sendiri. konflik seperti peperangan, rusuhan dan sebagainya akan menyebabkan kegiatan ekonomi terbengkalai dan ia juga membinasakan infrastruktur yang penting untuk menjaga kekayaan. Semua ini akan menyebabkan kemiskinan belaka. Menurut teori Marxisme, dalam masyarakat yang mengamalkan ekonomi pasaran bebas, kemisikinan adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Dalam masyarakat ini, harta cenderung untuk bertumpu kepada golongan yang terkaya, manakala orang yang misikin cenderung menjadi lebih miskin. Ini adalah karena dalam pasaran bebas, komoditi itu dijualkan kepada mereka yang mampu menawarkan harga yang lebih tinggi. Prinsip ini menyebabkan faktor pengeluargan seperti tanah, cenderung dimiliki oleh golongan terkaya, karena mereka mempunyai kuasa pembelian yang lebih tinggi. Pemilikkan faktor pengeluaran ini akan menyebabkan orang terkaya ini menjadi lebih kaya, dan mereka akan membeli lebih banyak faktor pengeluaran di pasaran bebas. Proses ini akan berlanjut, sehingga golongan terkaya ini memonopoli segala faktor pengeluaran, dan menyebabkan orang lain dalam masyarakat miskin karena tidak memiliki faktor pengeluaran.
Para pemulung memiliki pola hidup untuk mendaur ulang sampah yang ada dan akan dijual kepada seorang yang menampungnya hal ini adalah suatu kebiasaan yang dilakukan. Pola kehidupan yang dilakukan oleh para pemulung ini adalah sudah terkonsep dalam kehidupan mereka sehari-hari. konsep ini adalah memberdayakan pemulung sebagai ujung tombak usaha daur ulang sampah untuk dijual ke pelapak yang memilah sampah menurut kegunaannya. Sampah terpilah dijual ke bandar yang mengolahnya menjadi biji pelet sebagai bahan baku pembuatan alat rumah tangga dan mainan anak2. [16]
Simpang Kongsi seharusnya bisa menjadi outlet barang-barang plastik dari bahan baku plastik asal sampah. Piring, gelas, botol kecap, dan tempat sambal di warung dan penjual makanan kereta dorong banyak terbuat dari bahan baku plastik asal daur ulang sampah. Ketika memberdayakan para pemulung mengelola sampah, terungkap kesulitan hubungan pemulung dengan penguasa dan pejabat lokal. Banyak pemulung tidak memiliki "kartu tanda penduduk (KTP)" sehingga dianggap bukan penduduk sah dan perlu diusir ke luar kota oleh aparat pemerintah kota dan polisi. Tanpa KTP mereka menjadi non-person, tanpa hak legal untuk memiliki tempat hunian sah bebas dari penggusuran. Sebagai non-person mereka juga tidak bisa menikah secara resmi di kantor agama.
Menyadari hal ini, Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia rindu memberdayakan mereka dan memperlengkapi mereka dengan pengetahuan yang baik serta dengan lingkungan bersih sebagai domisili pemulung di Simpang Kongsi-Pancur Batu. Dengan alamat yang menetap diurus KTP pemulung. Dengan kartu ini, resmilah mereka menjadi warga Kota Medan dan terbuka kemungkinan mengurus perkawinan resmi mereka. Hubungan antara pemulung dan gereja terjalin erat dalam kerjasama efektif menanggulangi sampah. Dan penulis percaya dengan adanya kerjasama yang baik maka akan tercapai satu kehidupan pemulung yang baik. Penulis juga berharap ini menjadi harapan kita bersama.
Tinjauan Perjanjian Lama
“Kadang-kadang ada kesan bahwa Allah menjadikan makmur orang-orang benar dengan milik bendawi (Maz 112: 1-3), sekalipun benar bahwa untung berkat kerajinan dan penghematan bagi perseorangan maupun bagi bangsa dapat jelas terlihat bahwa Allah berjanji untuk memberkati mereka yang mentaati perintahNya (Ul 28: 1-14) kemiskinan mereka mungkin adalah akibat bencana alam yang menyebabkan panen rusak, atau karena serbuan musuh penindasan oleh tetangga-tetangga yang berkuasa dan kuat atau karena pemerasan riba” [17]
Warga masyarakat yang kaya wajib membantu saudara yang miskin (Ul 15: 1-11). Jika kita tinjau dari kitab Ulangan ini maka dalam bagian ini ada prioritas untuk orang-orang miskin yang memiliki hutang akan mendapatkan pelunasan ketika tahun penghapusan utang tiba. “inilah cara penghapusan itu: setiap orang yang berpiutang harus menghapuskan apa yang dipinjamkan kepada sesamanya atau saudaranya karena telah dimaklumkan penghapusan hutang demi TUHAN” [18]
Dalam Perjanjian Lama, para penulis Perjanjian Lama melihat kemiskinan sebagai aib sosial yang tidak diinginkan dan harus dihapuskan, bukan dibiarkan, serta menganggap orang miskin (tercakup didalamnya para janda, yatim piatu dan pendatang asing) sebagai manusia yang diayomi bukan dipersalahkan.
Berbicara mengenai kemiskinan ditengah-tengah bangsa Israel dalam Perjanjian Lama menegaskan bahwa kemiskinan mereka mungkin adalah akibat bencana alam yang menyebabkan panen rusak atau karena serbuan musuh, penindasan oleh tetangga-tetangga yang berkuasa dan kuat atau karena pemerasan riba. [19] Perjanjian Lama menjelaskan bahwa yang paling menderita akibat kemiskinan adalah anak-anak yang tidak mempunyai bapak lagi, janda-janda dan orang-orang asing yang tidak memiliki tanah. Mereka sering menjadi korban penindasan. Dengan adanya kemiskinan maka paradigma orang sering sekali mengacu kepada kemiskinan yang bersifat duniawi atau materi.
Tidak akan ada orang miskin, demikian perjanjian Lama secara khusus dalam kitab Ulangan 15: 5 menegaskan bahwa jika bangsa Israel mendengarkan baik-baik suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segenap perintah yang diberikan Tuhan kepada mereka sebab sungguh Tuhan akan memberkati bangsa Israel di negeri yang diberikan Tuhan Allah, kepada mereka untuk menjadi milik pusaka. [20] Berbeda dengan kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Lama, Mazmur, beberapa pemazmur sulit memahami mengapa dalam beberapa kasus, kemewahan jatuh di tangan orang jahat didasarkan terus pada materi, maka nampaknya sia-sia melayani Tuhan. Tetapi itu hanya masalah yang dilukiskan secara subjektif. Tetapi pada akhirnya orang jahat akan tiba pada kebinasaan, sedangkan orang benar akan menikmati pemilihan kekayaan yang paling akbar yaitu pengenalan akan Allah sendiri.
Sejumlah studi penelitian materi Alkitab telah dilakukan dan dipublikasikan. Studi ini difokuskan pada Perjanjian Lama, dimana rangkaian kata untuk kemiskinan, yang datangnya dari 6 akar kata Ibrani, muncul lebih dari 200 kali. Cara mengelompokkannya bisa bermacam-macam. Tetapi pembedaan menurut prinsip yang terkandung dalam kata-kata itu ada 3. Pertama, ditinjau dari segi ekonomi, ada orang yang miskin karena ketiadaan materi, mereka yang terkucoil sama sekali dari segala kebutuhan hidup primer. Kedua, ditinjau dari segi sosial, ada orang yang miskin akibat penindasan, yang merupakan korban ketidakadilan, dan tidak berdaya. Ketiga, tinjauan dari segi spiritual, ada orang miskin yang rendah hati, yang sadar akan ketakberdayaannya dan mengharapkan pertolongan hanya dari Allah semata-mata. Dalam masing-masing kasus ini Allah tampil sebagai yang datang menjumpai mereka untuk membela mereka, sesuai sifat unikNya, bahwa ‘Ia menegakkan orang-orang yang hina dari dalam debu’.
Kelompok pertama, yaitu orang yang miskin secara materi, tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka yang paling primer. Tidak hanya pangan, atau pakaian, atau rumah, atau ketiga-tiganya. Kadang-kadang, para penulis Alkitab menunjuk kepada kemungkinan kemiskinan mereka akibat dosa mereka sendiri, entah dosa kemalasan, pemborosan atau kelahapan. Kitab Amsal banyak berbicara tentang ini. Pemalas-pemalas disuruh belajar kepada semut, memperhatikan perilakunya agar menjadi orang yang bijaksana. Sebab semut mengumpulkan makanan dimusim panas, sedang pemalas tidak bangun-bangun dari tempat tidurnya: ‘tidur sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring-maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata’ (Amsal 6:6-11).
Erat kaitannya dengan kemalasan sebagai penyebab kemiskinan, ialah hawa napsu serakah seorang rakus dan peminum:’sipeminum dan sipelahap menjadi miskin, dan kantuk membuat orang berpakaian compang-camping ’ (Aqmsal 23:21).
Namun, bukan kemiskinan individual saja akibat dari dosa, seperti diakibatkan oleh dosa-dosa khusus ini. Juga kemiskinan nasional, kemiskinan selaku bangsa, adalah akibat dari dosa. Sebab pada masa teokrasi, tatkala Allah memerintahkan umat-Nya di Israel, Ia berjanji akan memberkati ketaatan mereka dengan kesuburan tanah dan kebun, dan mengutuk ketidaktaatan mereka dengan kegersangan.[21]

Namun, pada umumnya, para penulis Perjanjian Lama melihat kemiskinan sebagai aib sosial yang tidak di inginkan dan harus dihapuskan, bukan dibiarkan, serta mengangap orang miskin (tercakup didalamnya para janda, yatim piatu dan pendatang asing) sebagai manusia yang harus di ayomi, bukan dipersalahkan. Mereka dianggap bukan sebagai orang berdosa, melainkan sebagai ‘the sinned against’, terhadap siapa yang berdosa. [22]

Perlakuan Terhadap Orang Miskin

Berbicara masalah tindakan atau perlakuan banyak orang terhadap orang miskin, terkadang membuat suatu diskriminasi yang sangat mencolok antara orang miskin dan orang kaya. Secara umumnya kemiskinan ialah suatu keadaan dimana seseorang itu kekurangan bahan-bahan keperluan hidup. Dalam masyarakat modern kemiskinan biasanya disamakan dengan masalah kekurangan uang dari hal itulah yang membedakan antara orang miskin dan orang kaya sehingga menimbulkan perbedaan perlakuan atau sikap yang jelas mendiskriminasikan.
Dengan dilatarbelakangi perbedaan itu maka tidak jarang kita mendengar pendapat bahwa tindak kekerasan terjadi disebabkan oleh kemiskinan. Bahkan sampai ada yang mengatakan bahwa orang miskin memang gampang ngamuk. Memang, bukan sekali dua kali kita mendengar atau membaca bahwa di kawasan kumuh yang penuh penduduk miskin terjadi tindak kekerasan. Ada masalah sedikit, langsung terjadi main pukul, tusuk dan seterusnya. Namun, rasanya terlalu berlebihan bila sampai menyebut orang miskin cenderung melakukan kekerasan. [23]
Telah jelas dijabarkan bahwa dalam Perjanjian Lama orang-orang miskin salah satunya adalah yatim piatu. Dalam masa itu bangsa Israel memperlakukan mereka dengan sangat baik. Mengasuh yatim piatu sudah merupakan keprihatinan orang Israel sejak zaman paling dini, demikian juga bangsa-bangsa sekitar. Peraturan Perjajian Lama (Kel 22: 22) dan khususnya peraturan Ulangan sangat prihatian terhadap kesejahteraan mereka (Ul 16: 11), melindungi hak-hak mereka atas warisan, memampukan, melindungi hak-hak mereka, memampukan mereka mengikuti pesta-pesta besar tahunan dan menjamin mereka beroleh bagian dari persepuluhan hasil bumi (Ul 26: 12). Dan secara khusus dinyatakan bahwa Allah membela hak mereka (Ul 10: 18), dan terkutuk orang yang memperkosa hak mereka (Ul 27: 19). [24]
Allah teristimewa prihatin terhadap yatim piatu (Maz 10: 14, 18) khususnya ketika tidak ada yang menolong mereka (Maz 27: 10). Dengan gamblang Alkitab menyatakan bahwa keadilan tidak diberlakukan kepada yatim piatu; keadaan mereka sangat menyedihkan, sebab mereka telah disamun dan dibunuh (Yes 10: 1-2). Sering mereka menjadi korban penindasan,tapi Tuhan menjadi pembela mereka. Taurat memerintahkan untuk mengadakan persediaan bagi mereka. Tapi sering orang-orang kayalah yang menjadi penindas, sehingga orang miskin hampir menjadi sinonim bagi orang-orang saleh (Maz 14: 5,6). Betapa Allah yang mengasihi orang
Miskin, hal itu pula yang seharusnya membuat orang harus menghasihi sesamanya, karena dengan hati yang mau mengasihi kaum miskin yang mengalami penolakan dan tidak diperhitungkan maka Allah akan membalaskanya kepadamu.
Tidak hanya di tengah-tengah bangsa Israel pada waktu itu tetapi pada zaman sekarangpun ternyata perlakuan yang samapun diusahakan oleh pemerintah tetapi hal itu bukanlah sesuatu yang diutamakan lagi karena semakin hari semakin besar rasa keegoisan manusia terhadap sesamanya, hal itu juga terjadi karena semakin sulitnya hidup di tengah-tengah perkembangan zaman yang semakin maju. Pendek kata, kemiskinan merupakan persoalan yang maha kompleks dan kronis. Karena sangat kompleks dan kronis, maka cara penanggulangan kemiskinan pun membutuhkan analisis yang tepat, melibatkan semua komponen permasalahan, dan diperlukan strategi penanganan yang tepat, berkelanjutan dan tidak bersifat temporer.
Sejumlah variabel dapat dipakai untuk melacak persoalan kemiskinan, dan dari variabel ini dihasilkan serangkaian strategi dan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang tepat sasaran dan berkesinambungan. Dari dimensi pendidikan misalnya, pendidikan yang rendah dipandang sebagai penyebab kemiskinan. Dari dimensi kesehatan, rendahnya mutu kesehatan masyarakat menyebabkan terjadinya kemiskinan. Dari dimensi ekonomi, kepemilikan alat-alat produktif yang terbatas, penguasaan teknologi dan kurangnya keterampilan, dilihat sebagai alasan mendasar mengapa terjadi kemiskinan. Faktor kultur dan struktural juga kerap kali dilihat sebagai elemen penting yang menentukan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Tidak ada yang salah dan keliru dengan pendekatan tersebut, tetapi dibutuhkan keterpaduan antara berbagai faktor penyebab kemiskinan yang sangat banyak dengan indikator-indikator yang jelas, sehingga kebijakan penanggulangan kemiskinan tidak bersifat temporer, tetapi permanen dan berkelanjutan.

Pemeliharaan Tuhan Bagi Orang Miskin

Adanya pengkotak-kotakkan yang dilakukan oleh beberapa orang yang merasa diri mampu dan berpendidikan, hal ini menjadikan orang tersebut lebih dari pada orang-orang miskin yang ada maka hal ini menjadi hal yang sangat salah. Allah tidak pernah membedakan antara suku yang satu dan suku-suku yang lainnya, seolah-olah ada suku yang sangat menjadi perhatian Tuhan. Hal yang demikian bertabrakan dengan sifat kemahaadilan Allah. Apalagi terhadap kaum miskin, Allah tidak membedakan kasihnya antara orang miskin dan orang kaya, tidak ada yang lebih diberikan Allah kepada orang kaya karena semuanya punya kelemahan dan kekuatan. Tetapi Allah membedakan antara orang yang takut akan Allah dengan orang yang tidak takut akan Allah.
Dalam Perjanjian Lama pemeliharaan Allah kepada kaum yang lemah adalah dengan cara Allah mremberikan makan seluruh bangsa Israel ditanah perjanjian yang sudah disediakan oleh Allah. Antara Allah dan kaum miskin terkadang orang berpikir layakkah mereka dipelihara, dan mendapat penghidupan yang layak. Dalam berbagai cara Allah telah mengungkapkan perhatian besar bagi kaum miskin, yang kekurangan. Ia menyatakan diriNya sebagai tempat perlindungan mereka (Maz 14: 6; Yes 25: 4) pertolongan mereka (Maz 40: 18; 70: 6), pelepas mereka (I Sam 2: 8; Maz 12: 6), dan pemelihara mereka (Maz 10: 14; 68: 11; 132: 15).
Ketika Allah menyatakan TauratNya kepada bangsa Israel Dia menyediakan berbagai cara untuk menghapuskan kemiskinan diantara mereka (Ul 15: 7-11). Dia menyatakan tujuan keseluruhannya bagi mereka sebagai berikut. “maka tidak akan ada orang miskin diantaramu, sebab sungguh Tuhan akan memberkati engkau dinegeri yang diberikan Tuhan, Allahmu kepadamu untuk menjadi milik pusaka” (Ul 15: 4). Di dalam tauratNya Allah melarang hal membungakan uang yang dipinjamkan kepada orang miskin. Jikalau orang miskin memberikan suatu jaminan bagi pinjamannya, maka orang yang meminjamkan uang harus mengembalikan jubah (sekiranya jubah yang jadi jaminan) itu sebelum matahari terbenam. Demikian Allah berusaha untuk melindungi orang miskin dari pemerasan oleh orang yang berharta dan menjamin keadilan untuk mereka. [25]
Begitulah Tuhan, Allah kita itu. Tidak ada Allah lain seperti Dia. Sebab kekuasaanNya yang pertama bukan berteman dengan orang-orang kaya dan termasyur. Ciri khas Allah ialah kegemaranNya khusus untuk membela orang-orang yang hina dina, melepaskan mereka dari kesengsaraan mereka, dan mengubah mereka menjadi bangsawan. Penegasan ini berulang-ulang diberikan dan diperlihatkan contohnya dalam Alkitab, biasanya dengan pengaruh yang wajar, bahwa Allah yang meninggikan orang yang hina, merendahkan orang yang congkak. Inilah inti sari puji-pujian Hana, tatkala sudah bertahun-tahun mandul, ia melahirkan Samuel, putranya: “Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu, dan mengangkat orang-orang yang miskin dari dalam lumpur, untuk menundukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, dan membuat dia memiliki kursi kehormatan. (I Sam 2: 8)” [26]
Ini jugalah tema nyanyian anak dara Maria tatkala mengetahui bahwa ia (bukan wanita tersohor agung atau kaya) telah terpilih menjadi ibu dari Mesias. Allah telah memperhatikan rendahnya kedudukan Maria, demikian ia katakan; yang maha kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan yang besar melalui dirinya, dan karena itulah ia bersyukur kepada Allah dan memuji Dia.
Dalam Taurat, umat Allah diperintahkan jangan mengeraskan hati mereka atau mengepal tangan (tidak mau memberi) terhadap saudaranya yang miskin, baik laki-laki maupun perempuan, melainkan harus dengan jiwa besar membawa mereka ke rumahnya dan memberi makan mereka secara cuma-cuma. Jika ia meminta barang jaminan, ia tidak diperbolehkan memasuki rumah peminjam untuk mengambil barang jaminan itu, melainkan harus berdiri dengan hormat dan menunggu sampai barang itu dibawa keluar dan diserahkan kepadanya. Sumbangan atau pertolongan untuk yang miskin adalah kewajiban sanak saudara terhadap anggota-anggota kelompoknya. Jadi, jelas dalam Perjanjian Lama bagaimana pemeliharaan Allah kepada kaum miskin dan yang membutuhkan pertolongan dari Allah bahkan dari orang-orang yang percaya pada masa itu.

Tinjauan Perjanjian Baru

Istilah kemiskinan dalam Perjanjian Baru dalam arti yang asli dan berhubungan dengan keadaan ekonomi-sosial. Satu kekecualian terdapat dalam Galatia 4: 9 dimana Paulus mengatakan “roh-roh dunia” selaku yang miskin. Oleh sebab itu haruslah diperhatikan bahwa justru karena pemakaian arti kiasan dari istilah-istilah miskin dalam Perjanjian Baru itulah dapat terlihat asosiasi dari pembaca-pembaca injil pada zaman itu, mengenai keadaan orang miskin yang sebenarnya.
Orang-orang miskin adalah melarat, dan malang, sakit dan membutuhkan pakaian ala kadarnya, baginya cukuplah sekedar dapat bertahan untuk hidup. Pada umumya dalam Perjanjian Baru orang-orang miskin selalu disebut dalam satu rentetan dengan orang yang sakit; orang yang cacat,buta, lumpuh, dan lain sebagainya. Mereka tergolong pada orang miskin (Luk 14: 13,21; 4: 18f; Mat11: 5; 25: 35f; band. Jiga Gal 4: 9). Lazarus sebagai simbol orang miskin, berbaring sakit di depan pintu seorang yang kaya dan berharap mendapat sesuatu yang jatuh dari meja orang kaya itu, untuk sekedar menghilangkan rasa laparnya (Luk 16: 20). [27]
Berbeda dengan kitab Wahyu yang benar-benar menunjukkan keadaan seseorang yang sangat miskin, jika ia disebut telanjang (gymnos). Bartimeus yang buta masih memiliki sehelai jubah tetapi itu mungkin suatu kekecualian menurut ukuran Palestina, karena bagi seseorang pengemis tidak mungkin dapat membeli sehelai jubah. Dalam keadaan telanjang, maksudnya hanya mengenakan pakaian compang- camping dan dengan terpaksa kedinginan (Yak 2: 16); suatu pertanda bagi orang-orang miskin. Hal seperti ini juga terlihat dalam Matius 25: 36). Kitab Ayub telah menerangkan (24: 10; band. Mat 5: 40, bahwa bagi orang miskin secara harafiah, kemejanya pun masih mungkin disita. Dengan demikian Matius 6: 25 juga dapat dianggap bahwa orang miskin yang disebut disini sama sekali tidak lagi mengenakan sesuatu apapun. [28]
Dalam suatu hubungan yang tidak langsung dengan hal pakaian yang sewajarnya dari orang-orang miskin sering juga disebut dalam Perjanjian Baru tentang kekurangan makanan yang absolut. Kemiskinan berarti menderita kelaparan dan kehausan hubungan ini telah disinggung dalam Lukas 3: 11 dan juga terdapat di dalam Matius 25 : 35f; 6: 25 dan Yakobus 2: 15f. Ucapan bahagia terhadap orang miskin dalam Lukas 6: 20 menunjukkan keadaan orang miskin yang menderita kelaparan dan dukacita. Orang miskin tidak mengetahui apakah ia masih mempunyai makanan atau minuman untuk hari ini; mereka begitu saja berada di ujung kematian karena kelaparan (Mat 6: 25f). Dari keadaan mereka yang digambarkan dalam Yakobus 2: 15f kita dibawa kepada pengertian, apabila mereka diperbincangkan, bahwa mereka adalah telanjang dan tanpa memiliki jaminan akan memperoleh makanan sehari-hari, dan bahwa baginya ada sesuatu yang kurang yaitu apa yang paling dibutuhkan oleh seseorang bagi tubuh dan hidupnya. [29]

Tanggung Jawab Orang Percaya Kepada Orang Miskin

Dalam Perjanjian Baru Allah juga memerintahkan umatNya untuk menunjukkan perhatian yang mendalam kepada orang miskin dan kekurangan, khususnya mereka yang ada di dalam gereja. Sebagai orang yang percaya kepada Yesus seharusnya visiNya Yesus adalah juga menjadi visi kita karena sebagai anak maka Allah menuntut kita melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Banyak orang yang beranggapan bahwa tanggung jawab akan kehidupan orang miskin adalah tangungg jawab pemerintah saja.
Kemiskinan sebagai masalah nasional, tidak dapat hanya diselesaikan oleh pemerintah melalui berbagai kebijaksanaan pembangunan, tetapi juga harus menjadi tanggung jawab bersama bagi semua pelaku pembangunan termasuk masyarakat itu sendiri. Kunci pemecahan masalah kemiskinan adalah memberi kesempatan kepada penduduk miskin untuk ikut serta dalam proses produksi dan kepemilikan aset produksi. [30]

Tanggung jawab yang dilakukan oleh setiap orang percaya adalah tanggung jawab yang tidak mudah tetapi Allah yang menuntut kita untuk melakukan yang terbaik kepada sesamanya tanpa harus melihat siapa itu orang kaya dan siapa pula yang menjadi orang miskin, semua sama di hadapan Allah.
Menyatu dengan kaum miskin merupakan unsur paling dasar dari seluruh proses pembangunan orang percaya. Inilah dasar bagi unsur-unsur lainnya dan pondasi bagi tindakan dan kegiatan yang bisa dikerjakan bersama dengan orang percaya.
Akan tetapi, apakah maksudnya menyatu dengan kaum miskin? Banyak diantara kami (Filiphina) percaya bahwa bukan banyaknya tindakan pengorbanan perasaan sebagai titik pijakan. Tidaklah mudah memutuskan untuk melayani mereka jika hanya memiliki rasa cinta yang samar-samar dan kurangnya pemahaman terhadap kaum miskin. Dan yang dimaksudkan dengan titik pijakkan adalah jawaban yang kami berikan atas pertanyaan ‘siapa yang kita layani ?’ : kaum miskin atau orang yang membuat mereka miskin dan sistem dosa yang mereka hadirkan? Dalam konteks Filiphina, apakah kaum miskin ataukah para pedagang besar, tuan tanah, politisi, dan militer yang membangun suatu regim autokrasi dibawah cegkraman Amerika ?. [31]

Karena perhatian mendalam pada kaum miskin dalam perjuangan menuju kesejahteraan, demokrasi, kemajuan sosial dan kemanusiaan penuh, melayani mereka berarti melayani perjuangan yang adil dan legitim. Akan tetapi, ketika melemparkan undi kepada kaum miskin kita sebagai orang Kristen terpanggil untuk berdoa supaya Roh Kudus memberikan rahmatNya kepada kita untuk berjumpa dengan Kristus dalam diri saudara-saudara kita yang miskin, mengalami pertobatan baru kepada Kristus dalam diri orang miskin, dan melayani mereka dalam Kristus. Oleh sebab itu, yang dimaksud dengan miskin bukan miskin secara abstrak atau miskin dalam buku-buku sosiologi atau miskin sebagai objek untuk bantuan kesejahteraan, mereka yang miskin dan menderita karena mereka berjuang.

Pelayanan Yesus Kepada Orang Miskin

Salah satu tugas yang dianggap oleh Yesus sebagai misiNya yang dipimpin oleh Roh ialah “menyampaikan kabar baik kepada orang miskin” (Luk 4: 18; Band. Yes 61: 1). Dengan kata lain., Injil Kristus dapat ditegaskan sebagai injil kepada orang miskin (Mat 5: 3; 11: 5; Luk 7: 22; Yak 2: 5). “Orang miskin” adalah orang yang hidup rendah dan yang menderita di dalamdunia, yang berpaling kepada Allah karena kebutuhan yang besar dan mencari pertolonganNya. Pada waktu yang sama mereka itu setia kepada Allah dan menantikan Allah melepaskan umatNya dari dosa, penderitaan, kelaparan dan kebencian yang ada di dalam dunia. Mereka tidak mencari kekayaan dan hidup mereka dalam perkara-perkara dunia.
Allah melihat umatnya dalam kemiskinan dan menyatakan bahwa mereka itu kaya (Why 2: 9). Mereka sama sekali tidak dapat dianggap sebagai orang yang lebih rendah secara rohani atau secara moral. [32] Dalam pandangan Yesus, kekayaan merupakan suatu rintangan terhadap keselamatan dan kemuridan (Mat 19: 24; 13: 22).
Salah satu pernyataan Tuhan yang paling mengejutkan ialah bahwa sebenarnya hampir tak mungkin bagi seorang kaya untuk masuk kerajaan Allah. Namun ini hanya satu dari banyak pandangan Tuhan mengenai kekayaan dan kemiskinan serta memberikan pandangan yang oleh rasul-rasul alam beberapa surat kiriman Perjanjian Baru. [33]

Oleh sebab itu, sebagian besar pelayanan Yesus adalah kepada orang miskin dan yang kurang beruntung di dalammasyarakat Yahudi yang kelihatannya tidak diperdulikan orang seperti meraka yang tertindas (Luk 4: 18-19). Gerakan yang ada diantara orang Yahudi di Palestina yang berhubungan dengan nama Yesus adalah suatu gerakan dari orang-orang miskin dan untuk orang miskin.
Sebagai Anak tukang kayu, adalah lazim bila Yesus menjadi tukang kayu. Hal ini dianggap sebagai bukti bahwa Ia tidak tergolong pada orang miskin. Motivasi keputusannya untuk memihak orang-orang miskin hanya dianggap karena alasan etis dan kepartaian saja. Satu alasan yang paling kuat untuk ini adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal, bahwa pekerjaan tukang kayu ini tidak pernah dianggap hina. [34]

Hal itu bagi penulis bukanlah sesuatu yang benar karena sudah jelas sekali bahwa Yesus bukanlah seorang yang munafik dan hanya memikirkan hal jabatan. Sungguh memang Yesus sendiri adalah seorang yang mau melayani dan memang memiliki kasih kepada setiap orang, secara khusus komunitas miskin. “Yesus dan para pengikut-Nya bukanlah pengemis profesional, tetapi mereka prihatin dengan keadaan teman-teman sedaerahnya. Keprihatinan pengikut-pengikut Yesus nampak dalam konflik tentang Sabat (Mark 2: 23-28)” [35]

Tinjauan Sejarah Gereja

. Gereja pada masa lalu adalah gereja yang mengalami banyak pasang surut terutama dalam pemberdayaan jemaat-jemaatnya yang miskin. Dalam arti bahwa kemiskinan memang sudah merambah diberbagai tempat. Dimulai dari masa penjajahan sebelum gereja-gereja berkembang dan samapi pada akhirnya gereja memulai pelayananya.
Tetapi yang menjadi masalahnya adalah apakah gereja memiliki hati untuk membawa kaum miskin ini kepada Tuhan. Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia di Simpang Kongsi memulai pelayanannya tepat pada tanggal 20 April 2003. Sejak awal memiliki visi untuk menjangkau komunitas marginal didaerah itu bagi kemuliaan Tuhan. Gereja ini menyadari betapa sulitnya kehidupan seseorang jika dalam keadaan multi kekurangan, kesadaran ini mendorong Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia di Simpang Kongsi menetapkan visi dan misi untuk mengembangkan kehidupan para pemulung. Sangat sulit untuk bisa masuk dalam kehidupan mereka, karena bagi mereka kehidupan mereka sudahlah cukup dengan mengambil sampah-sampah.
Gereja-gereja seharusnya mampu untuk mengembangkan potensinya untuk lebih lagi membawa kaum miskin kepada Tuhan. Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia bangga akan visi yang diberikan Tuhan, walaupun dengan satu kata yang sering menjadi tantangan “tidak ada uang yang didapat di sana” tetapi hal itu bukanlah suatu tantangan yang berat karena Tuhan yang mengatur semua berkat untuk setiap orang.

Tinjauan Teologis

Marxisme adalah sebuah filsafat sekuler ateistis modern. Terbukti bahwa visi marxisme bagi komunitas global memikat imajinasi kader penting para pengambil keputusan somalia, keterpikatan yang sama telah menarik perhatian banyak masyarakat yang belum maju secar keseluruhan. [36] Marxisme masih memiliki daya tarik mengagumkan bagi orang miskin yang di rampas di dunia, dengan diilhami Marxisme mereka bisa memakai tindak kekerasan revolusioner dalam perjuangan melawan orang kaya demi makanan. [37]
Jika hal tersebut ditinjau dari segi Firman Allah maka sesungguhnya hal itu sangat bertentangan. Allah tidak pernah menyampaikan ataupun menciptakan kehidupan atau menjaga kehidupan manusia dengan kekerasan tetapi dengan kasihNya yang besar. Allah telah menyediakan berkat-berkat khusus untuk orang-orang yang meminta dalam namaNya. Bukan dengan tindak kekerasan.
Menurut teori Marxisme, dalam masyarakat yang mengamalkan ekonomi pasaran bebas, kemiskinan adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Dalam masyarakat ini, harta cenderung untuk bertupu kepada golongan terkaya, manakala orang yang miskin cenderung menjadi lebih miskin. Ini adalah karena dalam pasaran bebas, komoditi itu dijualkan kepada mereka yang mampu menawarkan harga yang lebih tinggi. Prinsip ini menyebabkan faktor pengeluaran seperti tanah, cenderung dimiliki oleh golongan terkaya, karena mereka mempunyai kuasa pembelian yang lebih tinggi. Pemilikan faktor pengeluaran ini akan menyebabkan orang terkaya ini menjadi lebih kaya, dan mereka akan membeli lebih banyak faktor pengeluaran di pasaran bebas. Proses ini akan melanjut, sehingga golongan terkaya ini memonopoli segala faktor pengeluaran, dan menyebabkan orang lain dalam masyarakat miskin kerena tidak memiliki faktor pengeluaran. [38]
Secara prinsipal ada dua kemungkinan uraian teologis tentang kemiskinan dalam Perjanjian Baru:
Injil adalah dasar dari ungkapan pengharapan, percaya pada diri sendiri dan solidaritas orang-orang miskin itu.
Injil adalah dasar dan ungkapan kesadaran tentang problema, tentang keadaan orang-orang miskin dan solidaritas mereka.
Kedua kemungkinan tersebut menganggap suatu situasi sosial yang berbeda tentang “kelompok-kelompok pelaku” itu yang mempunyai kaitan erat dengan sifat temporalnya, geografisnya dan rasa hormat terhadap kesaksian historis yang tertulis dalam Perjanjian Baru. [39]
Jika ditinjau maka sesungguhnya Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah sama-sama memperhatikan komunitas yang miskin pada zaman itu.

[1] http://www.pu.go.id/publik/P2KP/Des/memahami99.htm

[2] http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/012006/02/teropong/0401.htm

[3] H. S. Pulungan, Pengentasan Kemiskinan, (Medan: Pustaka Widya Sarana, 1994), 23
[4] H. S. Pulungan, Pengentasan Kemiskinan, 23-24
[5] Ibid, 10-11
[6] Mulyanto Sumardi, Kemiskinan dan Kebutuhan Pokok, (Jakarta: Rajawali, 1985), 3
[7] http://www.pu.go.id/publik/p2pk/des/memahami99.htm
[8] http://www.pu.go.id/publik/p2pk/okt/struktur00.htm.
[9] Wolfgang, Stegemann, Injil Dan Orang-Orang Miskin, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 1
[10] http: // www.pu.go.id/publik/p2kp/des/memahami99.htm.
[11] Wolfgang, Stegemann, Injil Dan Orang-Orang Miskin, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 2-3
[12] Wolfgang, Stegemann, Injil Dan Orang-Orang Miskin, 3
[13] Eduard. R. Dopo, Keprihatinan Sosial Gereja, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), 164
[14] John, Stott, Isu-Isu Global, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF, 2000), 303.
[15] http://ms.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
[16] http://hasanpoerbo.blogspot.com/
[17] R.E. Nixon, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini 2, “miskin, Kemiskinan” , (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004), 88.
[18] Ulangan 15: 2
[19] R.E. Nixon, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini 2, “miskin, Kemiskinan” , (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2004), 88
[20] J.G. Baldwin, Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2005), 325
[21] Stott. John, Isu-isu Global, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000,308
[22] Stott. John, Isu-isu Global, 309
[23] Aloysius Gunadi Brata, http://www.geocities.com/aloysiusgb/shortopinisius/kekerasan dankemiskinan.htm.
[24] J.D. Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini 2, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2004), 552.
[25] Donald.C.Stamps.C, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Jakarta: Gandum Mas, 2004), 1410
[26] John. Stoot, Isu-isu Global, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2000, 305-306
[27] Wolfgang, Stegemann, Injil Dan Orang-Orang Miskin, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 5.
[28] Wolfgang, Stegemann, Injil Dan Orang-Orang Miskin,6.
[29] IBID, 6-7
[30] http://www.pu.go.id/publik/P2KP/Okt/struktur00.htm

[31] Enrique.P. Batangan, Komunitas Basis Gerejani, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), 54-55
[32] Donald.C.Stamps.C, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Jakarta: Gandum Mas, 2004), 1675
[33] Donald.C.Stamps.C, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, 1675
[34] Wolfgang, Stegemann, Injil Dan Orang-Orang Miskin, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994), 12
[35] Wolfgang, Stegemann, Injil Dan Orang-Orang Miskin,13
[36] David.W.Shenk, Ilah-ilah Global, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001),421
[37] David.W.Shenk, Ilah-ilah Global, 432
[38] http://ms.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
[39] Wolfgang, Stegemann, Injil Dan Orang-Orang Miskin, 11

1 komentar:

Ndut Kick Andy mengatakan...

Tuhan Memberkati....

Maaf kalau kemaren komentar rani gak terpublikasi.. Gak nyangka bisa baca blog sehebat ini,apalagi ngerjai-innya sampai lupa waktu.,
tapi sayang banget rani gak diundang untuk membaca sejarah_hidupku...
semoga aja ntar rani jadi pembaca pertama... Selamat berkarya buat Peri cantik,semoga bukunya segera rampung dan bisa memberi manfaat kepada banyak orang...
Maaf law komentar yang rani berikan gak berkenan..
Salam Persaudaraan dari Adik Mu..

"God Bless You"